Saturday, September 24, 2016

Langkah Kecil Untuk Hasil yang Besar - Pertama.

Ini adalah cerita tentang tiga orang wanita biasa yang seketika merasa menjadi luar biasa karena sebuah warna baru mulai menghiasi hari-hari mereka yang selama ini hanya berkutat di sekitaran lingkaran kelabu.

Alright then, the story begin..

*Siapa bilang 7 itu angka baik?*

Banyak orang menyatakan bahwa 7 adalah angka baik, simbol keberuntungan, pertanda hal positif, dan mitos lainnya, namun tidak demikian nasibnya kali ini. Seluruh anggapan itu akan sirna jika orang-orang yang memercayainya menjalani perkuliahan semester 7 di Fakultas Psikologi salah satu universitas ternama di Indonesia. Percayalah, seluruh sanjungan itu kan berubah menjadi hinaan dan cercaan, seperti “apa-apaan nih semester 7. Laknat”.
Hampir seluruh mahasiswa tahun akhir merasa menjadi korban kejahatan perkuliahan semester 7 ini, termasuk Riani, seorang gadis yang selalu berusaha menghadapi apapun dengan riang gembira. Jika seseorang yang selalu berusaha untuk berpikir positif saja mengalami kesulitan untuk menarik hikmah, bayangkan betapa buruknya kesan yang diberikan kehidupan padanya saat itu. Tiada upaya yang bisa dilakukan gadis ini selain berbagi keluh kesah dengan temannya demi mengurangi dampak negatif yang berpotensi muncul akibat tekanan yang dialami.
Matahari bersinar terik siang itu, bukan lagi suasana baru di Depok, Riani duduk di kursi gedung “klinis” sebutannya, tempat ia biasa mengobrol dengan Ara. Gedung ini adalah gedung tempat bermukim para dosen klinis selama jam kerja dan banyak kelas yang digunakan untuk perkuliahan program profesi klinis, karena itu disebut gedung klinis. Siang itu Riani memulai pembicaraan untuk menindaklanjuti percakapan mereka via line malam sebelumnya.

“Jadi Ra, kita harus punya prestasi tertentu nih untuk menghiasi Linkedin kita yang sepi itu”, ucap Riani.
“Coba ya Yan, kita udah tingkat akhir. Selama ini apa yang pengen dilakuin tapi belum kesampaian?”, balas Ara.

Riani kemudian diam dan ia terpikir satu hal yang memang sudah sejak lama ia ingin realisasikan, kemudian ia berseru, “Ikut konferensi! Udah sejak lama pengen tapi ngga pernah kesampaian. Sedih”.

“Nah! Sama, Yan! Sebenarnya sejak lama juga aku pengen tapi ada aja halangannya. Belum beranilah, ngga ada temenlah, belum lagi tugas kuliah kita yang ngga manusiawi ini”, Ara membalas dengan menggebu-gebu.

Malam hari sebelumnya, Riani dan Ara sedang chatting dan mereka mempertanyakan eksistensi dan juga pencapaian mereka selama berstatus sebagai mahasiswa. Hal ini dipicu dari keisengan mereka melihat-lihat profil Linkedin orang lain yang memiliki segudang prestasi. Ditambah lagi, saat itu Riani sedang tertarik pada seorang pria yang bukan main indah latar belakang dan prestasinya, maka semakin ciutlah efikasi diri Riani. Oleh karena itu, percakapan mereka berujung pada keinginan untuk melakukan suatu gebrakan yang dapat meningkatkan eksistensi mereka, apa pun itu, baik dalam hal akademis maupun non-akademis.

“Tapi semester ini laknat Ra, bukan main tuntutannya. Bisa ngga yah..”, Riani mulai ragu.

Ara yang selalu bersemangat seperti biasa mulai menularkan api dalam dirinya, “Bisa, bisa, bismillah Yan. Kita coba cari tahu dulu konferensi apa yang kredibel dan well-known, terus cari tahu topik dan cari ide untuk penelitiannya”.

“Ini kita mau berdua doang? Apa kita ajak orang lagi? Gimana kalau ajak Runa?” Dia kan suka dan jago riset tuh, dan sekalian juga buat ngajakin dia refreshing dari segala kelaknatan semester 7 ini.”

Ara pun mengangguk setuju, “Oke oke Yan, setuju sih. Ntar ku bilangin ke dia juga ya, berhubung kita sekelas rancangan proposal, jadi bisa ngobrolin bareng-bareng juga nantinya”.


Runa, panggilan teman-temannya untuk Aruna, perempuan yang pintar, namun sering merendahkan dirinya sendiri hingga ia sering menjadi korban keusilan dan sarkasme teman-temannya. Runa sudah terbiasa diledek “sastrawan, puitis, bahasanya terlalu berat, filsuf” karena kecintaannya pada karya sastra dan hal-hal berbau filsafat, bahkan seleranya terhadap pria pun sangat khas. Runa juga seringkali menelan candaan yang membawa hal terkait metakognisi, ya teman-temannya begitu sayang dengannya sehingga menjahili kepintarannya dengan candaan metakognisi. Aruna seringkali membalas candaan dengan candaan pula, tapi dengan cara berbeda dengan orang kebanyakan. Terlalu berat, bukan humor receh, ya itulah Aruna, unik.
Aruna dan Ara merupakan teman satu peer group, bahkan mereka tinggal di tempat kos yang sama. Keduanya berasal dari Kota Hujan, tapi keduanya begitu berbeda karakter. Jika Aruna lebih memilih untuk memendam, Ara justru terang-terangan menyampaikan apa yang ia pikirkan dan ia inginkan. Jika Ara senang konfrontasi, Aruna lebih senang menghindar. Jikalau Aruna tersesat dalam kekhawatiran, maka Ara akan menularkan ketegasan dirinya agar Aruna dapat mengusir pikiran-pikiran negatifnya yang kadang melampaui ambang batas logika. Kadangkala api dalam diri Ara terlalu kuat, maka Aruna akan meredamnya dan mengajak Ara untuk kembali berpikir logis. Ya, mereka saling melengkapi, karenanya mereka cocok meskipun memiliki sifat yang bertolak-belakang.
Riani memang bukanlah bagian dari peer group Ara dan Aruna, tapi ia cukup dekat dengan semua orang dalam kelompok itu. Ia tidak tergabung dalam kelompok manapun, tapi keceriaan dan kegemarannya untuk berbicara membuatnya mengenal tiap orang dengan cukup baik, ia dikenal fleksibel. Riani, Ara, dan Aruna sudah saling mengenal sejak menjadi mahasiswa baru, hanya saja mereka tidak dapat selalu melalui jatuh bangun perkuliahan bersama karena satu dan lain hal, seperti misalnya kelas mata kuliah tertentu yang berbeda. Hanya saja, mereka tetap menjalin hubungan baik di luar kelas, sehingga jarak sosial antar ketiganya pun dapat dikatakan kecil.


Mentari berpindah perlahan menuju ufuk Barat, seluruh mahasiswa semester 7 masuk ke kelas masing-masing, kelas mata kuliah yang paling tidak dinanti, rancangan proposal. Riani, Ara, dan Aruna memilih kelas yang sama, peminatan klinis karena ketiganya tertarik dengan psikologi klinis. Perjalanan mereka setahun ke depan beserta segala pengalaman tak terduga di dalamnya dimulai dari obrolan ringan dan kebersamaan di kelas ini. Hanya saja realisasi segala rencana menjadi tertunda karena perhatian mereka terkuras pada berbagai tugas dan tuntutan setiap mata kuliah semester ini.

“Mata kuliah semester ini semuanya mengenai rancangan. Rancangan proposal, rancangan intervensi, mengonstruk alat ukur. Hidup orang lain yang dirancang, lah ini rancangan masa depan saya bagaimana?”, keluh beberapa mahasiswa yang mengklaim diri sebagai korban pengalaman negatif semester 7.

Siapa bilang 7 itu angka baik? Tidak untuk kehidupan perkuliahan mahasiswa Psikologi, semester 7.


--to be continued.

No comments:

Post a Comment