Ini adalah cerita tentang tiga orang wanita biasa
yang seketika merasa menjadi luar biasa karena sebuah warna baru mulai
menghiasi hari-hari mereka yang selama ini hanya berkutat di sekitaran
lingkaran kelabu.
Alright then, the story begin..
*Siapa
bilang 7 itu angka baik?*
Banyak orang menyatakan bahwa 7
adalah angka baik, simbol keberuntungan, pertanda hal positif, dan mitos
lainnya, namun tidak demikian nasibnya kali ini. Seluruh anggapan itu akan
sirna jika orang-orang yang memercayainya menjalani perkuliahan semester 7 di
Fakultas Psikologi salah satu universitas ternama di Indonesia. Percayalah,
seluruh sanjungan itu kan berubah menjadi hinaan dan cercaan, seperti “apa-apaan
nih semester 7. Laknat”.
Hampir seluruh mahasiswa tahun
akhir merasa menjadi korban kejahatan perkuliahan semester 7 ini, termasuk Riani,
seorang gadis yang selalu berusaha menghadapi apapun dengan riang gembira. Jika
seseorang yang selalu berusaha untuk berpikir positif saja mengalami kesulitan
untuk menarik hikmah, bayangkan betapa buruknya kesan yang diberikan kehidupan
padanya saat itu. Tiada upaya yang bisa dilakukan gadis ini selain berbagi
keluh kesah dengan temannya demi mengurangi dampak negatif yang berpotensi muncul akibat tekanan yang dialami.
Matahari bersinar terik siang
itu, bukan lagi suasana baru di Depok, Riani duduk di kursi gedung “klinis”
sebutannya, tempat ia biasa mengobrol dengan Ara. Gedung ini adalah gedung
tempat bermukim para dosen klinis selama jam kerja dan banyak kelas yang
digunakan untuk perkuliahan program profesi klinis, karena itu disebut gedung
klinis. Siang itu Riani memulai pembicaraan
untuk menindaklanjuti percakapan mereka via line
malam sebelumnya.
“Jadi Ra,
kita harus punya prestasi tertentu nih untuk menghiasi Linkedin kita yang sepi
itu”, ucap Riani.
“Coba ya
Yan, kita udah tingkat akhir. Selama ini apa yang pengen dilakuin tapi belum
kesampaian?”, balas Ara.
Riani
kemudian diam dan ia terpikir satu hal yang memang sudah sejak lama ia ingin
realisasikan, kemudian ia berseru, “Ikut konferensi! Udah sejak lama pengen
tapi ngga pernah kesampaian. Sedih”.
“Nah!
Sama, Yan! Sebenarnya sejak lama juga aku pengen tapi ada aja halangannya.
Belum beranilah, ngga ada temenlah, belum lagi tugas kuliah kita yang ngga
manusiawi ini”, Ara membalas dengan menggebu-gebu.
Malam hari sebelumnya, Riani dan
Ara sedang chatting dan mereka
mempertanyakan eksistensi dan juga pencapaian mereka selama berstatus sebagai
mahasiswa. Hal ini dipicu dari keisengan mereka melihat-lihat profil Linkedin
orang lain yang memiliki segudang prestasi. Ditambah lagi, saat itu Riani
sedang tertarik pada seorang pria yang bukan main indah latar belakang dan
prestasinya, maka semakin ciutlah efikasi diri Riani. Oleh karena itu,
percakapan mereka berujung pada keinginan untuk melakukan suatu gebrakan yang
dapat meningkatkan eksistensi mereka, apa pun itu, baik dalam hal akademis
maupun non-akademis.
“Tapi
semester ini laknat Ra, bukan main tuntutannya. Bisa ngga yah..”, Riani mulai
ragu.
Ara yang selalu bersemangat seperti biasa mulai menularkan api dalam dirinya, “Bisa, bisa, bismillah Yan. Kita coba cari tahu dulu konferensi apa yang kredibel dan well-known, terus cari tahu topik dan cari ide untuk penelitiannya”.
“Ini kita
mau berdua doang? Apa kita ajak orang lagi? Gimana kalau ajak Runa?” Dia kan
suka dan jago riset tuh, dan sekalian juga buat ngajakin dia refreshing dari segala kelaknatan
semester 7 ini.”
Ara pun
mengangguk setuju, “Oke oke Yan, setuju sih. Ntar ku bilangin ke dia juga ya,
berhubung kita sekelas rancangan proposal, jadi bisa ngobrolin bareng-bareng juga nantinya”.
…
Runa, panggilan teman-temannya
untuk Aruna, perempuan yang pintar, namun sering merendahkan dirinya sendiri hingga
ia sering menjadi korban keusilan dan sarkasme teman-temannya. Runa sudah
terbiasa diledek “sastrawan, puitis, bahasanya terlalu berat, filsuf” karena
kecintaannya pada karya sastra dan hal-hal berbau filsafat, bahkan seleranya
terhadap pria pun sangat khas. Runa juga seringkali menelan candaan yang
membawa hal terkait metakognisi, ya teman-temannya begitu sayang dengannya
sehingga menjahili kepintarannya dengan candaan metakognisi. Aruna seringkali
membalas candaan dengan candaan pula, tapi dengan cara berbeda dengan orang
kebanyakan. Terlalu berat, bukan humor receh, ya itulah Aruna, unik.
Aruna dan Ara merupakan teman
satu peer group, bahkan mereka
tinggal di tempat kos yang sama. Keduanya berasal dari Kota Hujan, tapi
keduanya begitu berbeda karakter. Jika Aruna lebih memilih untuk memendam, Ara justru
terang-terangan menyampaikan apa yang ia pikirkan dan ia inginkan. Jika Ara
senang konfrontasi, Aruna lebih senang menghindar. Jikalau Aruna tersesat dalam
kekhawatiran, maka Ara akan menularkan ketegasan dirinya agar Aruna dapat
mengusir pikiran-pikiran negatifnya yang kadang melampaui ambang batas logika. Kadangkala
api dalam diri Ara terlalu kuat, maka Aruna akan meredamnya dan mengajak Ara
untuk kembali berpikir logis. Ya, mereka saling melengkapi, karenanya mereka
cocok meskipun memiliki sifat yang bertolak-belakang.
Riani memang bukanlah bagian dari
peer group Ara dan Aruna, tapi ia
cukup dekat dengan semua orang dalam kelompok itu. Ia tidak tergabung dalam
kelompok manapun, tapi keceriaan dan kegemarannya untuk berbicara membuatnya mengenal
tiap orang dengan cukup baik, ia dikenal fleksibel. Riani, Ara, dan Aruna sudah
saling mengenal sejak menjadi mahasiswa baru, hanya saja mereka tidak dapat
selalu melalui jatuh bangun perkuliahan bersama karena satu dan lain hal,
seperti misalnya kelas mata kuliah tertentu yang berbeda. Hanya saja, mereka
tetap menjalin hubungan baik di luar kelas, sehingga jarak sosial antar
ketiganya pun dapat dikatakan kecil.
…
Mentari berpindah perlahan menuju
ufuk Barat, seluruh mahasiswa semester 7 masuk ke kelas masing-masing, kelas
mata kuliah yang paling tidak dinanti, rancangan proposal. Riani, Ara, dan
Aruna memilih kelas yang sama, peminatan klinis karena ketiganya tertarik
dengan psikologi klinis. Perjalanan mereka setahun ke depan beserta segala
pengalaman tak terduga di dalamnya dimulai dari obrolan ringan dan kebersamaan
di kelas ini. Hanya saja realisasi segala rencana menjadi tertunda karena
perhatian mereka terkuras pada berbagai tugas dan tuntutan setiap mata kuliah semester ini.
“Mata kuliah semester ini
semuanya mengenai rancangan. Rancangan proposal, rancangan intervensi,
mengonstruk alat ukur. Hidup orang lain yang dirancang, lah ini rancangan masa
depan saya bagaimana?”, keluh beberapa mahasiswa yang mengklaim diri sebagai
korban pengalaman negatif semester 7.
Siapa bilang 7 itu angka baik?
Tidak untuk kehidupan perkuliahan mahasiswa Psikologi, semester 7.
--to be continued.
No comments:
Post a Comment