Thursday, November 10, 2016

Langkah Kecil Untuk Hasil yang Besar - Kedua

*Sekarang Atau Tidak Sama Sekali*

“Hmm, menarik. Mau dong ikutan!”, ujar Aruna sesaat setelah Riani dan Ara menjelaskan niatan hati mereka untuk mengajak Aruna berkarya bersama.

..
Riani dan Ara menjelaskan kepada Aruna tentang keinginan mereka untuk berpartisipasi pada konferensi ilmiah tingkat internasional, dan meyakinkan Aruna bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk menorehkan prestasi dalam sejarah kehidupan perkuliahan mereka. Sebelumnya, Riani dan Ara telah mencari tahu konferensi apa yang dituju, tentu tidak hanya informasi dangkal semata, tapi juga rincian kegiatan tersebut. Ya, namanya juga Riani dan Ara, para wanita dengan tipe kepribadian Judging*
*salah satu tipe kepribadian menurut MBTI

..
“Jadi, ada dua konferensi menarik yang bakal diadain tahun depan (2016), dan kita masih punya waktu kurang lebih 3 bulan untuk lakuin penelitiannya”, Ara menjelaskan dengan semangat.
“Dua itu dimana aja, Ra?”, Aruna terlihat antusias.
“Ada di Yokohama untuk bulan Juli, dan…di Angers, Perancis bulan Juni”, semangat Ara semakin memuncak.
“WAH! Europe.. So tempting.. Coba aja dua-duanya yuk, mau ga?”, Riani tergiur dan khayalannya mulai merasuk.
“Iya coba dua-duanya dulu yuk, berarti harus buat dua penelitian ya, HA HA”, Aruna antusias namun tertawa miris mengingat effort yang harus dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut tentulah harus maksimal.
“Oke! Kita putuskan untuk coba dulu ya. Ini kan topiknya ada macem-macem, kita coba kontemplasi masing-masing dulu, kalau ada ide langsung aja ajuin. Gimana?”, Riani mulai menentukan langkah yang harus ditempuh berikutnya.
“Setujuuuuuuuu”, Ara dan Aruna menyahut sepakat.

Ketiga mahasiswi tingkat akhir tersebut mulai merancang rencana terkait ambisi untuk ikut serta dalam konferensi itu. Mereka membahas apa yang ingin dan harus dilakukan step by step hampir setiap hari, melalui group chatting yang mereka namai sebagai Pejuang Eksistensi. Nama group itu melambangkan hasrat besar yang ingin mereka capai menjelang garis akhir kehidupan perkuliahan, mereka ingin menjadi lebih eksis, in a positive way.
Riani, Ara, dan Aruna cukup sering membicarakan target mereka, hanya saja pembicaraan itu tak jarang diabaikan karena fokus mereka bertiga mulai beralih ke tugas kuliah yang bukan main dzalimnya, ya, tugas mata kuliah semester 7. Hari demi hari, topik mengenai rencana penelitian dan konferensi ini semakin memudar dari daftar topik percakapan sehari-hari Riani, Ara, dan Aruna. Bagaimana tidak, yang dibahas hanyalah tugas, ujian, tugas, ujian, sungguh tidak variatif. Meskipun demikian, setiap kali ada waktu senggang, ketiga wanita ini pun kembali teringat dengan ambisi mereka dan api dalam diri mereka kembali muncul, hanya saja memang untuk waktu sesaat saja, sebelum diri mereka kembali dihipnotis oleh aktivitas perkuliahan.
Peralihan fokus perhatian ini tanpa sadar berlangsung hingga semester 7 hampir berakhir, dan ini menandakan bahwa sudah mendekati akhir tahun 2015. Riani, Ara, dan Aruna sadar bahwa progress yang mereka lakukan untuk mengejar target yang telah dibuat sebelumnya masih sangat minim, bahkan timeline yang disusun tentu saja hancur berantakan. Keraguan mulai menerpa, dan ketidakpercayaan diri pun mulai menghampiri mereka. Periode ujian akhir pun tiba, kali ini mereka benar-benar meninggalkan pemikiran tentang konferensi ini sepenuhnya agar fokus perhatian mereka bisa tercurahkan dengan maksimal pada ujian. Akhirnya, pertengahan bulan Desember, mereka bertiga resmi putus kontrak dengan perkuliahan semester 7. Akhirnya. Selamat datang, liburan!

Riani, Ara, dan Aruna kini dapat mencurahkan seluruh perhatian untuk misi  yang ingin mereka wujudkan, yakni ikut konferensi. Mereka kerap kali berbagi ide dan menelaah kelebihan dan kekurangan dari masing-masing ide yang dilontarkan. Hanya saja, waktu tidak berpihak kepada mereka. Tenggat waktu pengumpulan abstrak penelitian untuk kedua konferensi yang mereka tuju semakin dekat, sedangkan mereka masih saja jalan di tempat.

Riani : “Wah kita ngga bisa gini terus nih. Kita sebenarnya udah punya cukup banyak ide, tapi saking banyaknya malah jadi bingung mau ngejalanin yang mana”, keluh Riani.
Aruna : “Apa..mau coba diskusi ke Mas Bagus aja? Siapa tahu kita dapat pencerahan???”, Aruna mengajukan sebuah ide cemerlang
Ara : “Boleh banget tuh! Daripada stuck gini terus kan, mending kita coba minta saran, apalagi doi kan udah ngga perlu dipertanyakan lagi tuh kredibilitasnya hahaha”, tawa Ara memuncah.

Mas Bagus, adalah seorang dosen yang memang sudah harum namanya di ranah penelitian ilmiah, terutama psikologi sosial dan psikologi positif. Beliau adalah “filsuf”-nya kampus Riani, Ara, dan Aruna, bukan hanya karena beliau sempat mencicipi ilmu Filsafat, tetapi juga karena pembawaan diri dan pola pikirnya. Seantero tak ada yang tak kenal dirinya, beliau memang luar biasa. Beliau memang terkenal, tapi sebagian besar mahasiswa enggan untuk “bersinggungan” dengannya, maklum, nyali ciut jika harus bertek-tok dengannya, tidak terkecuali bagi Riani, Ara, dan Aruna.
Keraguan memang sempat mampir pada diri ketiga mahasiswi ini untuk mengajak mas Bagus berdiskusi, tapi tentu saja keraguan itu dikalahkan oleh ambisi mereka yang jauh lebih besar. Ditambah lagi, mereka sudah terbiasa untuk melontarkan isi pikiran, pendapat, bahkan celotehan serta keluhan di depan mas Bagus, yang notabene merupakan dosen salah satu mata kuliah mereka di semester 7 lalu. Semenjak melalui asam pahitnya mata kuliah tersebut, mereka sudah tidak lagi mempersepsikan mas Bagus sebagai orang yang “jauh” dan powerful, sehingga mereka tak lagi enggan menyampaikan apa pun padanya.
Sebelumnya, Riani dan kedua rekannya sudah pernah bertemu dengan Mas Bagus untuk menyampaikan keinginan mereka berpartisipasi di konferensi internasional. Hanya saja, selama pertemuan tersebut ketiga mahasiswi ini hanya dapat tertawa miris penuh makna karena perkataan Mas Bagus berhasil “menembak” mereka, bahkan mereka ibaratnya sebuah kota yang mendapat serangan bom tiap kali Mas Bagus memberi respon. Kenapa? Itu semua disebabkan oleh keahlian Mas Bagus yang melontarkan hal-hal yang begitu tepat sasaran tanpa perlu diungkapkan langsung oleh lawan bicaranya, dalam kasus ini adalah Riani, Ara, dan Aruna.
Ketika pertemuan itu, Aruna yang terpaksa menjadi juru bicara karena kedua temannya begitu resisten membuka perbincangan dengan memberi penjelasan singkat tentang kedatangan mereka bertemu Mas Bagus.

“Jadi gini mas, sebenarnya kami…..”

Aruna kemudian memberikan penjelasan singkat tentang hal yang sedang mereka oper bak bola kali di lapangan, yakni penjelasan tentang niatan mereka ikut konferensi internasional. Setelah berbincang-bincang tentang konsep dan ide yang dibawa mahasiswanya, Mas Bagus kemudian mulai bertanya tentang detil konferensinya.

“Konferensi apa itu? Dimana?” tanya Mas Bagus.
“European Conference on Positive Psychology, mas. Tahun 2016 venue nya di Perancis”, Riani menjawab dengan agak ragu namun penasaran dengan respon dosennya mendengar bahwa mahasiswanya ingin mencoba peruntungan ke negeri romantic, Perancis. Tanpa diduga, Mas Bagus kemudian memberi respon yang merupakan sebuah “tembakan” bagi Riani, Ara, dan Aruna.
“Perancis..kalian yakin?”, Mas Bagus melontarkan pertanyaan singkat sambil tertawa jahil.
“Ya..um..ya gimana ya mas..pengen coba dulu aja hehe”, Riani berusaha memberi jawaban meskipun sulit karena ia merasa seperti baru saja memanjat tebing akibat jatuh dari jurang. Hanya karena sebuah pertanyaan jahil dosennya.
“Enak doong, ntar ke Paris. Tapi ngga apa tuh, kalian pakai kerudung semua kan”, Mas Bagus menyampaikan kekhawatirannya.

Pembicaran ini pun terus berlanjut, pembicaraan yang membuat Riani, Ara, dan Aruna serasa berada di arena pertarungan, bertarung melawan tajamnya respon Mas Bagus yang tepat sasaran langsung ke hati, bertahan untuk bangkit dari jurang setelah ditanyakan hal-hal fundamental, dan berusaha menata ulang self-esteem yang berantakan setiap kali Mas Bagus memberi “bom”. Meskipun demikian, percakapan itu begitu menyenangkan dan sungguh bermanfaat bagi Riani, Ara, dan Aruna. Mereka senang karena Mas Bagus memberi respon positif, mendukung penuh, dan begitu terbuka untuk diajak diskusi terkait penelitian yang ingin dilakukan mahasiswanya. Pencerahan yang didapat Riani, Ara, dan Aruna berhasil membuat derai hujan deras sore hari itu kehilangan pesonanya.

Riani, Ara, dan Aruna pun sepakat untuk mengajak Mas Bagus bertemu, dan yang bertugas menghubungi adalah Riani. Mas Bagus bersedia untuk ditemui, dan mereka kembali berdiskusi tentang konsep dan ide penelitian. Ini adalah salah satu momen yang disyukuri oleh ketiga mahasiswi ini, di mana mereka merasa terbantu dan diperhatikan oleh orang yang sebelum ini bahkan tidak berani mereka ajak bicara.
Mas Bagus memberi banyak informasi baru dan membuka pikiran tiga sekawan ini, dan ia pun memaksa mahasiswanya untuk berpikir keras, seperti biasanya. Bukannya merasa kesal, lelah, ataupun perasaan negatif lainnya, Riani, Ara, dan Aruna justru menikmati masa-masa mengonstruk sebuah penelitian secara utuh seperti ini, sungguh sebuah dunia baru yang sulit tapi memberi stimulasi bagi pengembangan kognitif, bahkan afektif.
Mas Bagus tidak pernah secara langsung memberi instruksi ABC, tapi ia memandu mahasiswanya untuk berpikir sendiri hingga akhirnya mahasiswa menemukan bahwa yang harus dilakukan adalah ABC, bahkan lebih jauh lagi hingga abjad ke-sekian. Lagi dan lagi, sungguh beruntung Riani, Ara, dan Aruna dapat secara bebas bertukar pikiran dengan orang semacam beliau. Sebuah kesenangan tersendiri dapat mengembangkan diri dengan orang yang paling ahli di bidangnya, begitu pikir ketiga wanita ini.
Akhirnya setelah pergumulan panjang melawan berbagai kerumitan dalam pikiran masing-masing, Riani, Ara, dan Aruna berhasil memutuskan ingin membuat penelitian yang seperti apa. Mereka merumuskan satu per satu langkah yang harus dilakukan, serta proses yang harus dilalui dari waktu ke waktu. Urusan mengenai timeline adalah keahlian Ara, Sang Font-maker, julukannya karena tulisan tangannya sungguh khas dan rapi, hingga seperti font di komputer atau handphone. Urusan mengenai membuat jarkoman adalah keahlian Riani, karena ia biasa membuat pengumuman atau jarkoman dengan bahasa yang sederhana namun menarik. Merapikan kuesioner, form yang digunakan serta hal konseptual lainnya adalah milik Aruna, Sang Filsuf titisan Mas Bagus, begitu ledek teman-temannya.
Proses yang dilalui tidaklah mudah dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga akhirnya mereka bisa menyelesaikan penelitian pertama. Setelah memastikan seluruh hal telah siap dan tanpa cela, maka Riani, Ara, dan Aruna memasukkan abstrak penelitian mereka ke konferensi pertama, International Congress of Psychology yang akan diadakan di Yokohama, Jepang. Beberapa menit menjelang tenggat waktu, abstrak penelitian mereka berhasil masuk ke database penyelenggara.
Tanpa sempat istirahat lama, Riani, Ara, dan Aruna kembali jatuh bangun untuk menyelesaikan penelitian kedua mereka. Awalnya keraguan sempat menghampiri mereka, mereka ragu apakah mereka mampu membuat sebuah karya unik namun menarik untuk diikutsertakan dalam konferensi di Perancis. Setelah hati dan pikiran bergulat beberapa saat, akhirnya mereka berhasil mengusir keraguan hingga datanglah keberanian. Usaha yang mereka lakukan tidaklah mudah, karena penelitian yang dilakukan cukup sulit, terutama terkait partisipan penelitian.
Setiap hari mereka meminta kesediaan target responden untuk berpartisipasi, mendekati target satu per satu. Mereka menghiasi berbagai media sosial mereka dengan pengumuman dan permintaan partisipasi penelitian, serta membuang jauh-jauh harga diri untuk meminta kesediaan calon responden berpartisipasi dengan cara komen di media sosial yang bersangkutan. Sudah seperti akun online shop saja memang, tapi tak apa, demi masa depan katanya. Setelah beberapa hari aktif menyelesaikan penelitian ini, akhirnya penelitian kedua pun selesai dan berhasil dikirimkan sebelum tenggat waktu.
Setelah sebulan lebih berfokus pada proses melakukan dua penelitian, Riani, Ara, dan Aruna akhirnya dapat menghembuskan nafas lega. Mereka bangga dengan diri mereka sendiri, mereka bangga dengan kerja sama mereka yang begitu solid, mereka bangga satu sama lain. Mereka bangga dapat tetap terus berusaha meskipun mereka punya 1000 alasan untuk menyerah. Persistensi dan kekuatan mereka berakar dari sebuah pemikiran sederhana bahwa lebih baik mencoba sekarang daripada tidak sama sekali.


--to be continued

Saturday, September 24, 2016

Langkah Kecil Untuk Hasil yang Besar - Pertama.

Ini adalah cerita tentang tiga orang wanita biasa yang seketika merasa menjadi luar biasa karena sebuah warna baru mulai menghiasi hari-hari mereka yang selama ini hanya berkutat di sekitaran lingkaran kelabu.

Alright then, the story begin..

*Siapa bilang 7 itu angka baik?*

Banyak orang menyatakan bahwa 7 adalah angka baik, simbol keberuntungan, pertanda hal positif, dan mitos lainnya, namun tidak demikian nasibnya kali ini. Seluruh anggapan itu akan sirna jika orang-orang yang memercayainya menjalani perkuliahan semester 7 di Fakultas Psikologi salah satu universitas ternama di Indonesia. Percayalah, seluruh sanjungan itu kan berubah menjadi hinaan dan cercaan, seperti “apa-apaan nih semester 7. Laknat”.
Hampir seluruh mahasiswa tahun akhir merasa menjadi korban kejahatan perkuliahan semester 7 ini, termasuk Riani, seorang gadis yang selalu berusaha menghadapi apapun dengan riang gembira. Jika seseorang yang selalu berusaha untuk berpikir positif saja mengalami kesulitan untuk menarik hikmah, bayangkan betapa buruknya kesan yang diberikan kehidupan padanya saat itu. Tiada upaya yang bisa dilakukan gadis ini selain berbagi keluh kesah dengan temannya demi mengurangi dampak negatif yang berpotensi muncul akibat tekanan yang dialami.
Matahari bersinar terik siang itu, bukan lagi suasana baru di Depok, Riani duduk di kursi gedung “klinis” sebutannya, tempat ia biasa mengobrol dengan Ara. Gedung ini adalah gedung tempat bermukim para dosen klinis selama jam kerja dan banyak kelas yang digunakan untuk perkuliahan program profesi klinis, karena itu disebut gedung klinis. Siang itu Riani memulai pembicaraan untuk menindaklanjuti percakapan mereka via line malam sebelumnya.

“Jadi Ra, kita harus punya prestasi tertentu nih untuk menghiasi Linkedin kita yang sepi itu”, ucap Riani.
“Coba ya Yan, kita udah tingkat akhir. Selama ini apa yang pengen dilakuin tapi belum kesampaian?”, balas Ara.

Riani kemudian diam dan ia terpikir satu hal yang memang sudah sejak lama ia ingin realisasikan, kemudian ia berseru, “Ikut konferensi! Udah sejak lama pengen tapi ngga pernah kesampaian. Sedih”.

“Nah! Sama, Yan! Sebenarnya sejak lama juga aku pengen tapi ada aja halangannya. Belum beranilah, ngga ada temenlah, belum lagi tugas kuliah kita yang ngga manusiawi ini”, Ara membalas dengan menggebu-gebu.

Malam hari sebelumnya, Riani dan Ara sedang chatting dan mereka mempertanyakan eksistensi dan juga pencapaian mereka selama berstatus sebagai mahasiswa. Hal ini dipicu dari keisengan mereka melihat-lihat profil Linkedin orang lain yang memiliki segudang prestasi. Ditambah lagi, saat itu Riani sedang tertarik pada seorang pria yang bukan main indah latar belakang dan prestasinya, maka semakin ciutlah efikasi diri Riani. Oleh karena itu, percakapan mereka berujung pada keinginan untuk melakukan suatu gebrakan yang dapat meningkatkan eksistensi mereka, apa pun itu, baik dalam hal akademis maupun non-akademis.

“Tapi semester ini laknat Ra, bukan main tuntutannya. Bisa ngga yah..”, Riani mulai ragu.

Ara yang selalu bersemangat seperti biasa mulai menularkan api dalam dirinya, “Bisa, bisa, bismillah Yan. Kita coba cari tahu dulu konferensi apa yang kredibel dan well-known, terus cari tahu topik dan cari ide untuk penelitiannya”.

“Ini kita mau berdua doang? Apa kita ajak orang lagi? Gimana kalau ajak Runa?” Dia kan suka dan jago riset tuh, dan sekalian juga buat ngajakin dia refreshing dari segala kelaknatan semester 7 ini.”

Ara pun mengangguk setuju, “Oke oke Yan, setuju sih. Ntar ku bilangin ke dia juga ya, berhubung kita sekelas rancangan proposal, jadi bisa ngobrolin bareng-bareng juga nantinya”.


Runa, panggilan teman-temannya untuk Aruna, perempuan yang pintar, namun sering merendahkan dirinya sendiri hingga ia sering menjadi korban keusilan dan sarkasme teman-temannya. Runa sudah terbiasa diledek “sastrawan, puitis, bahasanya terlalu berat, filsuf” karena kecintaannya pada karya sastra dan hal-hal berbau filsafat, bahkan seleranya terhadap pria pun sangat khas. Runa juga seringkali menelan candaan yang membawa hal terkait metakognisi, ya teman-temannya begitu sayang dengannya sehingga menjahili kepintarannya dengan candaan metakognisi. Aruna seringkali membalas candaan dengan candaan pula, tapi dengan cara berbeda dengan orang kebanyakan. Terlalu berat, bukan humor receh, ya itulah Aruna, unik.
Aruna dan Ara merupakan teman satu peer group, bahkan mereka tinggal di tempat kos yang sama. Keduanya berasal dari Kota Hujan, tapi keduanya begitu berbeda karakter. Jika Aruna lebih memilih untuk memendam, Ara justru terang-terangan menyampaikan apa yang ia pikirkan dan ia inginkan. Jika Ara senang konfrontasi, Aruna lebih senang menghindar. Jikalau Aruna tersesat dalam kekhawatiran, maka Ara akan menularkan ketegasan dirinya agar Aruna dapat mengusir pikiran-pikiran negatifnya yang kadang melampaui ambang batas logika. Kadangkala api dalam diri Ara terlalu kuat, maka Aruna akan meredamnya dan mengajak Ara untuk kembali berpikir logis. Ya, mereka saling melengkapi, karenanya mereka cocok meskipun memiliki sifat yang bertolak-belakang.
Riani memang bukanlah bagian dari peer group Ara dan Aruna, tapi ia cukup dekat dengan semua orang dalam kelompok itu. Ia tidak tergabung dalam kelompok manapun, tapi keceriaan dan kegemarannya untuk berbicara membuatnya mengenal tiap orang dengan cukup baik, ia dikenal fleksibel. Riani, Ara, dan Aruna sudah saling mengenal sejak menjadi mahasiswa baru, hanya saja mereka tidak dapat selalu melalui jatuh bangun perkuliahan bersama karena satu dan lain hal, seperti misalnya kelas mata kuliah tertentu yang berbeda. Hanya saja, mereka tetap menjalin hubungan baik di luar kelas, sehingga jarak sosial antar ketiganya pun dapat dikatakan kecil.


Mentari berpindah perlahan menuju ufuk Barat, seluruh mahasiswa semester 7 masuk ke kelas masing-masing, kelas mata kuliah yang paling tidak dinanti, rancangan proposal. Riani, Ara, dan Aruna memilih kelas yang sama, peminatan klinis karena ketiganya tertarik dengan psikologi klinis. Perjalanan mereka setahun ke depan beserta segala pengalaman tak terduga di dalamnya dimulai dari obrolan ringan dan kebersamaan di kelas ini. Hanya saja realisasi segala rencana menjadi tertunda karena perhatian mereka terkuras pada berbagai tugas dan tuntutan setiap mata kuliah semester ini.

“Mata kuliah semester ini semuanya mengenai rancangan. Rancangan proposal, rancangan intervensi, mengonstruk alat ukur. Hidup orang lain yang dirancang, lah ini rancangan masa depan saya bagaimana?”, keluh beberapa mahasiswa yang mengklaim diri sebagai korban pengalaman negatif semester 7.

Siapa bilang 7 itu angka baik? Tidak untuk kehidupan perkuliahan mahasiswa Psikologi, semester 7.


--to be continued.

Friday, September 2, 2016

Kekuasaan Waktu.

Andai waktu bisa kuputar kembali..
Pemikiran demikian tentu pernah terlintas di benak kebanyakan orang, termasuk saya. If I could turn back the time, i would like to..... 
Seberapa sadar-pun seseorang akan keterbatasan kemampuan yang ia miliki, tetap saja hasrat untuk mengendalikan Sang Waktu pernah singgah dalam diri sebagian besar manusia. Bagaimana tidak, andaikan kita bisa kembali ke masa lalu, tentu akan ada hal-hal yang dapat kita ubah, kita cegah, bahkan kita "adakan". Jika kita bisa melompat ke masa depan, tentu kita dapat memuaskan keingintahuan akan segala ketidakpastian, melihat hasil dari apa yang kita lakukan kini, dan menjadi referensi dalam menentukan langkah yang akan kita ambil saat ini. 

Tapi sayang, Sang Waktu itu hanyalah milik-Nya. Kita tak berdaya di hadapan-Nya, kita tak berdaya untuk mengendalikan Sang Waktu. Kita bukanlah siapa-siapa, kita hanyalah makhluk yang seringkali terpedaya oleh waktu, hingga kadang kita lupa akan keberhargaan kehadirannya (re: waktu). 
Kita yang begitu kecil dibanding-Nya tentu hanya dapat memaksimalkan apa yang kita miliki, termasuk waktu, ya. Waktu di masa kini, saat ini, sekarang ini, bukanlah kemarin, bukanlah esok. 
Kita tidak punya kemampuan untuk mengutak-atik waktu, karena itu muncullah berbagai kata mutiara bahwa kita harus memanfaatkan waktu yang kita miliki saat ini. 

Maksimalkan waktu yang kita punya, karena ia tak akan pernah menoleh tuk kembali.

Kita tidak dapat mengubah apa yang terjadi di masa lampau, tapi kita dapat belajar dari itu. Mengapa? Agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali di masa yang akan datang, agar kita tidak perlu merasakan sakitnya penyesalan, agar tidak ada lagi keinginan untuk memutar ulang Sang Waktu. 

Kita tidak dapat kembali ke momen-momen indah yang telah terlewati, tapi kita dapat menjadikan hal itu patokan untuk meraih kebahagiaan-kebahagiaan lainnya di masa yang akan datang. Biarlah momen indah dahulu menjadi kenangan, setidaknya kita bisa menentukan apa yang dapat kita lakukan untuk mencapai keindahan lainnya agar tidak sekedar menjadi angan. 

Kita tidak dapat melompat ke masa depan, tapi kita dapat menduga-duga apa yang akan terjadi di masa depan sebagai dampak dari yang kita lakukan saat ini. Tidak ada yang dapat menjawab sebuah ketidakpastian kecuali Sang Waktu. Hal yang dapat kita lakukan hanyalah membuat perencanaan, mempersiapkan diri untuk yang terburuk, dan mengatur ekspektasi untuk mencegah kekecewaan nantinya. 

Berhentilah mengulang-ulang pemikiran "What if......" 
Tidak ada gunanya. 
Berhentilah terintimidasi oleh ketidakpastian, cobalah untuk menguatkan diri.
Buka seluruh indera, terkadang kita diharuskan berjalan melewati kegelapan untuk mencapai jalan terang.

Tidak sedikit pertanyaan-pertanyaan atas segala yang terjadi hanya dapat dijawab oleh hal lainnya yang terjadi di lain waktu.

Lagi-lagi siapa yang berkuasa? Sang Waktu.