*Sekarang
Atau Tidak Sama Sekali*
“Hmm, menarik. Mau dong ikutan!”,
ujar Aruna sesaat setelah Riani dan Ara menjelaskan niatan hati mereka untuk
mengajak Aruna berkarya bersama.
..
Riani dan Ara menjelaskan kepada
Aruna tentang keinginan mereka untuk berpartisipasi pada konferensi ilmiah
tingkat internasional, dan meyakinkan Aruna bahwa ini adalah kesempatan yang
tepat untuk menorehkan prestasi dalam sejarah kehidupan perkuliahan mereka.
Sebelumnya, Riani dan Ara telah mencari tahu konferensi apa yang dituju, tentu
tidak hanya informasi dangkal semata, tapi juga rincian kegiatan tersebut. Ya,
namanya juga Riani dan Ara, para wanita dengan tipe kepribadian Judging*
*salah satu tipe kepribadian menurut MBTI
..
“Jadi,
ada dua konferensi menarik yang bakal diadain tahun depan (2016), dan kita
masih punya waktu kurang lebih 3 bulan untuk lakuin penelitiannya”, Ara
menjelaskan dengan semangat.
“Dua itu
dimana aja, Ra?”, Aruna terlihat antusias.
“Ada di
Yokohama untuk bulan Juli, dan…di Angers, Perancis bulan Juni”, semangat Ara
semakin memuncak.
“WAH!
Europe.. So tempting.. Coba aja
dua-duanya yuk, mau ga?”, Riani tergiur dan khayalannya mulai merasuk.
“Iya coba
dua-duanya dulu yuk, berarti harus buat dua penelitian ya, HA HA”, Aruna
antusias namun tertawa miris mengingat effort
yang harus dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut tentulah harus
maksimal.
“Oke!
Kita putuskan untuk coba dulu ya. Ini kan topiknya ada macem-macem, kita coba
kontemplasi masing-masing dulu, kalau ada ide langsung aja ajuin. Gimana?”,
Riani mulai menentukan langkah yang harus ditempuh berikutnya.
“Setujuuuuuuuu”,
Ara dan Aruna menyahut sepakat.
Ketiga mahasiswi tingkat akhir
tersebut mulai merancang rencana terkait ambisi untuk ikut serta dalam
konferensi itu. Mereka membahas apa yang ingin dan harus dilakukan step by step hampir setiap hari, melalui
group chatting yang mereka namai
sebagai Pejuang Eksistensi. Nama group itu melambangkan hasrat besar yang ingin
mereka capai menjelang garis akhir kehidupan perkuliahan, mereka ingin menjadi
lebih eksis, in a positive way.
Riani, Ara, dan Aruna cukup
sering membicarakan target mereka, hanya saja pembicaraan itu tak jarang
diabaikan karena fokus mereka bertiga mulai beralih ke tugas kuliah yang bukan
main dzalimnya, ya, tugas mata kuliah semester 7. Hari demi hari, topik
mengenai rencana penelitian dan konferensi ini semakin memudar dari daftar
topik percakapan sehari-hari Riani, Ara, dan Aruna. Bagaimana tidak, yang dibahas
hanyalah tugas, ujian, tugas, ujian, sungguh tidak variatif. Meskipun demikian,
setiap kali ada waktu senggang, ketiga wanita ini pun kembali teringat dengan
ambisi mereka dan api dalam diri mereka kembali muncul, hanya saja memang untuk
waktu sesaat saja, sebelum diri mereka kembali dihipnotis oleh aktivitas
perkuliahan.
Peralihan fokus perhatian ini
tanpa sadar berlangsung hingga semester 7 hampir berakhir, dan ini menandakan
bahwa sudah mendekati akhir tahun 2015. Riani, Ara, dan Aruna sadar bahwa
progress yang mereka lakukan untuk mengejar target yang telah dibuat sebelumnya
masih sangat minim, bahkan timeline yang
disusun tentu saja hancur berantakan. Keraguan mulai menerpa, dan
ketidakpercayaan diri pun mulai menghampiri mereka. Periode ujian akhir pun
tiba, kali ini mereka benar-benar meninggalkan pemikiran tentang konferensi ini
sepenuhnya agar fokus perhatian mereka bisa tercurahkan dengan maksimal pada
ujian. Akhirnya, pertengahan bulan Desember, mereka bertiga resmi putus kontrak
dengan perkuliahan semester 7. Akhirnya. Selamat datang, liburan!
…
Riani, Ara, dan Aruna kini dapat
mencurahkan seluruh perhatian untuk misi
yang ingin mereka wujudkan, yakni ikut konferensi. Mereka kerap kali
berbagi ide dan menelaah kelebihan dan kekurangan dari masing-masing ide yang
dilontarkan. Hanya saja, waktu tidak berpihak kepada mereka. Tenggat waktu
pengumpulan abstrak penelitian untuk kedua konferensi yang mereka tuju semakin
dekat, sedangkan mereka masih saja jalan di tempat.
Riani :
“Wah kita ngga bisa gini terus nih. Kita sebenarnya udah punya cukup banyak
ide, tapi saking banyaknya malah jadi bingung mau ngejalanin yang mana”, keluh
Riani.
Aruna :
“Apa..mau coba diskusi ke Mas Bagus aja? Siapa tahu kita dapat pencerahan???”,
Aruna mengajukan sebuah ide cemerlang
Ara :
“Boleh banget tuh! Daripada stuck gini
terus kan, mending kita coba minta saran, apalagi doi kan udah ngga perlu
dipertanyakan lagi tuh kredibilitasnya hahaha”, tawa Ara memuncah.
…
Mas Bagus, adalah seorang dosen
yang memang sudah harum namanya di ranah penelitian ilmiah, terutama psikologi
sosial dan psikologi positif. Beliau adalah “filsuf”-nya kampus Riani, Ara, dan
Aruna, bukan hanya karena beliau sempat mencicipi ilmu Filsafat, tetapi juga
karena pembawaan diri dan pola pikirnya. Seantero tak ada yang tak kenal
dirinya, beliau memang luar biasa. Beliau memang terkenal, tapi sebagian besar
mahasiswa enggan untuk “bersinggungan” dengannya, maklum, nyali ciut jika harus
bertek-tok dengannya, tidak terkecuali bagi Riani, Ara, dan Aruna.
Keraguan memang sempat mampir
pada diri ketiga mahasiswi ini untuk mengajak mas Bagus berdiskusi, tapi tentu
saja keraguan itu dikalahkan oleh ambisi mereka yang jauh lebih besar. Ditambah
lagi, mereka sudah terbiasa untuk melontarkan isi pikiran, pendapat, bahkan
celotehan serta keluhan di depan mas Bagus, yang notabene merupakan dosen salah
satu mata kuliah mereka di semester 7 lalu. Semenjak melalui asam pahitnya mata
kuliah tersebut, mereka sudah tidak lagi mempersepsikan mas Bagus sebagai orang
yang “jauh” dan powerful, sehingga
mereka tak lagi enggan menyampaikan apa pun padanya.
Sebelumnya, Riani dan kedua
rekannya sudah pernah bertemu dengan Mas Bagus untuk menyampaikan keinginan
mereka berpartisipasi di konferensi internasional. Hanya saja, selama pertemuan
tersebut ketiga mahasiswi ini hanya dapat tertawa miris penuh makna karena perkataan
Mas Bagus berhasil “menembak” mereka, bahkan mereka ibaratnya sebuah kota yang
mendapat serangan bom tiap kali Mas Bagus memberi respon. Kenapa? Itu semua
disebabkan oleh keahlian Mas Bagus yang melontarkan hal-hal yang begitu tepat
sasaran tanpa perlu diungkapkan langsung oleh lawan bicaranya, dalam kasus ini
adalah Riani, Ara, dan Aruna.
Ketika pertemuan itu, Aruna yang
terpaksa menjadi juru bicara karena kedua temannya begitu resisten membuka
perbincangan dengan memberi penjelasan singkat tentang kedatangan mereka
bertemu Mas Bagus.
“Jadi gini mas, sebenarnya kami…..”
Aruna kemudian memberikan
penjelasan singkat tentang hal yang sedang mereka oper bak bola kali di
lapangan, yakni penjelasan tentang niatan mereka ikut konferensi internasional.
Setelah berbincang-bincang tentang konsep dan ide yang dibawa mahasiswanya, Mas
Bagus kemudian mulai bertanya tentang detil konferensinya.
“Konferensi apa itu? Dimana?”
tanya Mas Bagus.
“European Conference on Positive
Psychology, mas. Tahun 2016 venue nya di Perancis”, Riani menjawab dengan agak
ragu namun penasaran dengan respon dosennya mendengar bahwa mahasiswanya ingin
mencoba peruntungan ke negeri romantic, Perancis. Tanpa diduga, Mas Bagus
kemudian memberi respon yang merupakan sebuah “tembakan” bagi Riani, Ara, dan
Aruna.
“Perancis..kalian yakin?”, Mas
Bagus melontarkan pertanyaan singkat sambil tertawa jahil.
“Ya..um..ya gimana ya mas..pengen
coba dulu aja hehe”, Riani berusaha memberi jawaban meskipun sulit karena ia
merasa seperti baru saja memanjat tebing akibat jatuh dari jurang. Hanya karena
sebuah pertanyaan jahil dosennya.
“Enak doong, ntar ke Paris. Tapi
ngga apa tuh, kalian pakai kerudung semua kan”, Mas Bagus menyampaikan
kekhawatirannya.
Pembicaran ini pun terus berlanjut,
pembicaraan yang membuat Riani, Ara, dan Aruna serasa berada di arena
pertarungan, bertarung melawan tajamnya respon Mas Bagus yang tepat sasaran
langsung ke hati, bertahan untuk bangkit dari jurang setelah ditanyakan hal-hal
fundamental, dan berusaha menata ulang self-esteem
yang berantakan setiap kali Mas Bagus memberi “bom”. Meskipun demikian,
percakapan itu begitu menyenangkan dan sungguh bermanfaat bagi Riani, Ara, dan
Aruna. Mereka senang karena Mas Bagus memberi respon positif, mendukung penuh,
dan begitu terbuka untuk diajak diskusi terkait penelitian yang ingin dilakukan
mahasiswanya. Pencerahan yang didapat Riani, Ara, dan Aruna berhasil membuat derai
hujan deras sore hari itu kehilangan pesonanya.
…
Riani, Ara, dan Aruna pun sepakat
untuk mengajak Mas Bagus bertemu, dan yang bertugas menghubungi adalah Riani.
Mas Bagus bersedia untuk ditemui, dan mereka kembali berdiskusi tentang konsep
dan ide penelitian. Ini adalah salah satu momen yang disyukuri oleh ketiga
mahasiswi ini, di mana mereka merasa terbantu dan diperhatikan oleh orang yang
sebelum ini bahkan tidak berani mereka ajak bicara.
Mas Bagus memberi banyak
informasi baru dan membuka pikiran tiga sekawan ini, dan ia pun memaksa
mahasiswanya untuk berpikir keras, seperti biasanya. Bukannya merasa kesal,
lelah, ataupun perasaan negatif lainnya, Riani, Ara, dan Aruna justru menikmati
masa-masa mengonstruk sebuah penelitian secara utuh seperti ini, sungguh sebuah
dunia baru yang sulit tapi memberi stimulasi bagi pengembangan kognitif, bahkan
afektif.
Mas Bagus tidak pernah secara
langsung memberi instruksi ABC, tapi ia memandu mahasiswanya untuk berpikir
sendiri hingga akhirnya mahasiswa menemukan bahwa yang harus dilakukan adalah
ABC, bahkan lebih jauh lagi hingga abjad ke-sekian. Lagi dan lagi, sungguh
beruntung Riani, Ara, dan Aruna dapat secara bebas bertukar pikiran dengan
orang semacam beliau. Sebuah kesenangan tersendiri dapat mengembangkan diri
dengan orang yang paling ahli di bidangnya, begitu pikir ketiga wanita ini.
Akhirnya setelah pergumulan
panjang melawan berbagai kerumitan dalam pikiran masing-masing, Riani, Ara, dan
Aruna berhasil memutuskan ingin membuat penelitian yang seperti apa. Mereka
merumuskan satu per satu langkah yang harus dilakukan, serta proses yang harus
dilalui dari waktu ke waktu. Urusan mengenai timeline adalah keahlian Ara, Sang Font-maker, julukannya karena tulisan tangannya sungguh khas dan
rapi, hingga seperti font di komputer
atau handphone. Urusan mengenai
membuat jarkoman adalah keahlian Riani, karena ia biasa membuat pengumuman atau
jarkoman dengan bahasa yang sederhana namun menarik. Merapikan kuesioner, form yang digunakan serta hal konseptual
lainnya adalah milik Aruna, Sang Filsuf titisan Mas Bagus, begitu ledek
teman-temannya.
Proses yang dilalui tidaklah
mudah dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga akhirnya mereka bisa
menyelesaikan penelitian pertama. Setelah memastikan seluruh hal telah siap dan
tanpa cela, maka Riani, Ara, dan Aruna memasukkan abstrak penelitian mereka ke
konferensi pertama, International
Congress of Psychology yang akan diadakan di Yokohama, Jepang. Beberapa
menit menjelang tenggat waktu, abstrak penelitian mereka berhasil masuk ke database penyelenggara.
Tanpa sempat istirahat lama,
Riani, Ara, dan Aruna kembali jatuh bangun untuk menyelesaikan penelitian kedua
mereka. Awalnya keraguan sempat menghampiri mereka, mereka ragu apakah mereka
mampu membuat sebuah karya unik namun menarik untuk diikutsertakan dalam
konferensi di Perancis. Setelah hati dan pikiran bergulat beberapa saat,
akhirnya mereka berhasil mengusir keraguan hingga datanglah keberanian. Usaha
yang mereka lakukan tidaklah mudah, karena penelitian yang dilakukan cukup
sulit, terutama terkait partisipan penelitian.
Setiap hari mereka meminta kesediaan
target responden untuk berpartisipasi, mendekati target satu per satu. Mereka menghiasi
berbagai media sosial mereka dengan pengumuman dan permintaan partisipasi
penelitian, serta membuang jauh-jauh harga diri untuk meminta kesediaan calon
responden berpartisipasi dengan cara komen di media sosial yang bersangkutan.
Sudah seperti akun online shop saja
memang, tapi tak apa, demi masa depan katanya. Setelah beberapa hari aktif
menyelesaikan penelitian ini, akhirnya penelitian kedua pun selesai dan
berhasil dikirimkan sebelum tenggat waktu.
Setelah sebulan lebih berfokus
pada proses melakukan dua penelitian, Riani, Ara, dan Aruna akhirnya dapat
menghembuskan nafas lega. Mereka bangga dengan diri mereka sendiri, mereka
bangga dengan kerja sama mereka yang begitu solid, mereka bangga satu sama
lain. Mereka bangga dapat tetap terus berusaha meskipun mereka punya 1000
alasan untuk menyerah. Persistensi dan kekuatan mereka berakar dari sebuah
pemikiran sederhana bahwa lebih baik mencoba sekarang daripada tidak sama
sekali.
--to be continued
No comments:
Post a Comment