Thursday, November 10, 2016

Langkah Kecil Untuk Hasil yang Besar - Kedua

*Sekarang Atau Tidak Sama Sekali*

“Hmm, menarik. Mau dong ikutan!”, ujar Aruna sesaat setelah Riani dan Ara menjelaskan niatan hati mereka untuk mengajak Aruna berkarya bersama.

..
Riani dan Ara menjelaskan kepada Aruna tentang keinginan mereka untuk berpartisipasi pada konferensi ilmiah tingkat internasional, dan meyakinkan Aruna bahwa ini adalah kesempatan yang tepat untuk menorehkan prestasi dalam sejarah kehidupan perkuliahan mereka. Sebelumnya, Riani dan Ara telah mencari tahu konferensi apa yang dituju, tentu tidak hanya informasi dangkal semata, tapi juga rincian kegiatan tersebut. Ya, namanya juga Riani dan Ara, para wanita dengan tipe kepribadian Judging*
*salah satu tipe kepribadian menurut MBTI

..
“Jadi, ada dua konferensi menarik yang bakal diadain tahun depan (2016), dan kita masih punya waktu kurang lebih 3 bulan untuk lakuin penelitiannya”, Ara menjelaskan dengan semangat.
“Dua itu dimana aja, Ra?”, Aruna terlihat antusias.
“Ada di Yokohama untuk bulan Juli, dan…di Angers, Perancis bulan Juni”, semangat Ara semakin memuncak.
“WAH! Europe.. So tempting.. Coba aja dua-duanya yuk, mau ga?”, Riani tergiur dan khayalannya mulai merasuk.
“Iya coba dua-duanya dulu yuk, berarti harus buat dua penelitian ya, HA HA”, Aruna antusias namun tertawa miris mengingat effort yang harus dilakukan untuk mewujudkan keinginan tersebut tentulah harus maksimal.
“Oke! Kita putuskan untuk coba dulu ya. Ini kan topiknya ada macem-macem, kita coba kontemplasi masing-masing dulu, kalau ada ide langsung aja ajuin. Gimana?”, Riani mulai menentukan langkah yang harus ditempuh berikutnya.
“Setujuuuuuuuu”, Ara dan Aruna menyahut sepakat.

Ketiga mahasiswi tingkat akhir tersebut mulai merancang rencana terkait ambisi untuk ikut serta dalam konferensi itu. Mereka membahas apa yang ingin dan harus dilakukan step by step hampir setiap hari, melalui group chatting yang mereka namai sebagai Pejuang Eksistensi. Nama group itu melambangkan hasrat besar yang ingin mereka capai menjelang garis akhir kehidupan perkuliahan, mereka ingin menjadi lebih eksis, in a positive way.
Riani, Ara, dan Aruna cukup sering membicarakan target mereka, hanya saja pembicaraan itu tak jarang diabaikan karena fokus mereka bertiga mulai beralih ke tugas kuliah yang bukan main dzalimnya, ya, tugas mata kuliah semester 7. Hari demi hari, topik mengenai rencana penelitian dan konferensi ini semakin memudar dari daftar topik percakapan sehari-hari Riani, Ara, dan Aruna. Bagaimana tidak, yang dibahas hanyalah tugas, ujian, tugas, ujian, sungguh tidak variatif. Meskipun demikian, setiap kali ada waktu senggang, ketiga wanita ini pun kembali teringat dengan ambisi mereka dan api dalam diri mereka kembali muncul, hanya saja memang untuk waktu sesaat saja, sebelum diri mereka kembali dihipnotis oleh aktivitas perkuliahan.
Peralihan fokus perhatian ini tanpa sadar berlangsung hingga semester 7 hampir berakhir, dan ini menandakan bahwa sudah mendekati akhir tahun 2015. Riani, Ara, dan Aruna sadar bahwa progress yang mereka lakukan untuk mengejar target yang telah dibuat sebelumnya masih sangat minim, bahkan timeline yang disusun tentu saja hancur berantakan. Keraguan mulai menerpa, dan ketidakpercayaan diri pun mulai menghampiri mereka. Periode ujian akhir pun tiba, kali ini mereka benar-benar meninggalkan pemikiran tentang konferensi ini sepenuhnya agar fokus perhatian mereka bisa tercurahkan dengan maksimal pada ujian. Akhirnya, pertengahan bulan Desember, mereka bertiga resmi putus kontrak dengan perkuliahan semester 7. Akhirnya. Selamat datang, liburan!

Riani, Ara, dan Aruna kini dapat mencurahkan seluruh perhatian untuk misi  yang ingin mereka wujudkan, yakni ikut konferensi. Mereka kerap kali berbagi ide dan menelaah kelebihan dan kekurangan dari masing-masing ide yang dilontarkan. Hanya saja, waktu tidak berpihak kepada mereka. Tenggat waktu pengumpulan abstrak penelitian untuk kedua konferensi yang mereka tuju semakin dekat, sedangkan mereka masih saja jalan di tempat.

Riani : “Wah kita ngga bisa gini terus nih. Kita sebenarnya udah punya cukup banyak ide, tapi saking banyaknya malah jadi bingung mau ngejalanin yang mana”, keluh Riani.
Aruna : “Apa..mau coba diskusi ke Mas Bagus aja? Siapa tahu kita dapat pencerahan???”, Aruna mengajukan sebuah ide cemerlang
Ara : “Boleh banget tuh! Daripada stuck gini terus kan, mending kita coba minta saran, apalagi doi kan udah ngga perlu dipertanyakan lagi tuh kredibilitasnya hahaha”, tawa Ara memuncah.

Mas Bagus, adalah seorang dosen yang memang sudah harum namanya di ranah penelitian ilmiah, terutama psikologi sosial dan psikologi positif. Beliau adalah “filsuf”-nya kampus Riani, Ara, dan Aruna, bukan hanya karena beliau sempat mencicipi ilmu Filsafat, tetapi juga karena pembawaan diri dan pola pikirnya. Seantero tak ada yang tak kenal dirinya, beliau memang luar biasa. Beliau memang terkenal, tapi sebagian besar mahasiswa enggan untuk “bersinggungan” dengannya, maklum, nyali ciut jika harus bertek-tok dengannya, tidak terkecuali bagi Riani, Ara, dan Aruna.
Keraguan memang sempat mampir pada diri ketiga mahasiswi ini untuk mengajak mas Bagus berdiskusi, tapi tentu saja keraguan itu dikalahkan oleh ambisi mereka yang jauh lebih besar. Ditambah lagi, mereka sudah terbiasa untuk melontarkan isi pikiran, pendapat, bahkan celotehan serta keluhan di depan mas Bagus, yang notabene merupakan dosen salah satu mata kuliah mereka di semester 7 lalu. Semenjak melalui asam pahitnya mata kuliah tersebut, mereka sudah tidak lagi mempersepsikan mas Bagus sebagai orang yang “jauh” dan powerful, sehingga mereka tak lagi enggan menyampaikan apa pun padanya.
Sebelumnya, Riani dan kedua rekannya sudah pernah bertemu dengan Mas Bagus untuk menyampaikan keinginan mereka berpartisipasi di konferensi internasional. Hanya saja, selama pertemuan tersebut ketiga mahasiswi ini hanya dapat tertawa miris penuh makna karena perkataan Mas Bagus berhasil “menembak” mereka, bahkan mereka ibaratnya sebuah kota yang mendapat serangan bom tiap kali Mas Bagus memberi respon. Kenapa? Itu semua disebabkan oleh keahlian Mas Bagus yang melontarkan hal-hal yang begitu tepat sasaran tanpa perlu diungkapkan langsung oleh lawan bicaranya, dalam kasus ini adalah Riani, Ara, dan Aruna.
Ketika pertemuan itu, Aruna yang terpaksa menjadi juru bicara karena kedua temannya begitu resisten membuka perbincangan dengan memberi penjelasan singkat tentang kedatangan mereka bertemu Mas Bagus.

“Jadi gini mas, sebenarnya kami…..”

Aruna kemudian memberikan penjelasan singkat tentang hal yang sedang mereka oper bak bola kali di lapangan, yakni penjelasan tentang niatan mereka ikut konferensi internasional. Setelah berbincang-bincang tentang konsep dan ide yang dibawa mahasiswanya, Mas Bagus kemudian mulai bertanya tentang detil konferensinya.

“Konferensi apa itu? Dimana?” tanya Mas Bagus.
“European Conference on Positive Psychology, mas. Tahun 2016 venue nya di Perancis”, Riani menjawab dengan agak ragu namun penasaran dengan respon dosennya mendengar bahwa mahasiswanya ingin mencoba peruntungan ke negeri romantic, Perancis. Tanpa diduga, Mas Bagus kemudian memberi respon yang merupakan sebuah “tembakan” bagi Riani, Ara, dan Aruna.
“Perancis..kalian yakin?”, Mas Bagus melontarkan pertanyaan singkat sambil tertawa jahil.
“Ya..um..ya gimana ya mas..pengen coba dulu aja hehe”, Riani berusaha memberi jawaban meskipun sulit karena ia merasa seperti baru saja memanjat tebing akibat jatuh dari jurang. Hanya karena sebuah pertanyaan jahil dosennya.
“Enak doong, ntar ke Paris. Tapi ngga apa tuh, kalian pakai kerudung semua kan”, Mas Bagus menyampaikan kekhawatirannya.

Pembicaran ini pun terus berlanjut, pembicaraan yang membuat Riani, Ara, dan Aruna serasa berada di arena pertarungan, bertarung melawan tajamnya respon Mas Bagus yang tepat sasaran langsung ke hati, bertahan untuk bangkit dari jurang setelah ditanyakan hal-hal fundamental, dan berusaha menata ulang self-esteem yang berantakan setiap kali Mas Bagus memberi “bom”. Meskipun demikian, percakapan itu begitu menyenangkan dan sungguh bermanfaat bagi Riani, Ara, dan Aruna. Mereka senang karena Mas Bagus memberi respon positif, mendukung penuh, dan begitu terbuka untuk diajak diskusi terkait penelitian yang ingin dilakukan mahasiswanya. Pencerahan yang didapat Riani, Ara, dan Aruna berhasil membuat derai hujan deras sore hari itu kehilangan pesonanya.

Riani, Ara, dan Aruna pun sepakat untuk mengajak Mas Bagus bertemu, dan yang bertugas menghubungi adalah Riani. Mas Bagus bersedia untuk ditemui, dan mereka kembali berdiskusi tentang konsep dan ide penelitian. Ini adalah salah satu momen yang disyukuri oleh ketiga mahasiswi ini, di mana mereka merasa terbantu dan diperhatikan oleh orang yang sebelum ini bahkan tidak berani mereka ajak bicara.
Mas Bagus memberi banyak informasi baru dan membuka pikiran tiga sekawan ini, dan ia pun memaksa mahasiswanya untuk berpikir keras, seperti biasanya. Bukannya merasa kesal, lelah, ataupun perasaan negatif lainnya, Riani, Ara, dan Aruna justru menikmati masa-masa mengonstruk sebuah penelitian secara utuh seperti ini, sungguh sebuah dunia baru yang sulit tapi memberi stimulasi bagi pengembangan kognitif, bahkan afektif.
Mas Bagus tidak pernah secara langsung memberi instruksi ABC, tapi ia memandu mahasiswanya untuk berpikir sendiri hingga akhirnya mahasiswa menemukan bahwa yang harus dilakukan adalah ABC, bahkan lebih jauh lagi hingga abjad ke-sekian. Lagi dan lagi, sungguh beruntung Riani, Ara, dan Aruna dapat secara bebas bertukar pikiran dengan orang semacam beliau. Sebuah kesenangan tersendiri dapat mengembangkan diri dengan orang yang paling ahli di bidangnya, begitu pikir ketiga wanita ini.
Akhirnya setelah pergumulan panjang melawan berbagai kerumitan dalam pikiran masing-masing, Riani, Ara, dan Aruna berhasil memutuskan ingin membuat penelitian yang seperti apa. Mereka merumuskan satu per satu langkah yang harus dilakukan, serta proses yang harus dilalui dari waktu ke waktu. Urusan mengenai timeline adalah keahlian Ara, Sang Font-maker, julukannya karena tulisan tangannya sungguh khas dan rapi, hingga seperti font di komputer atau handphone. Urusan mengenai membuat jarkoman adalah keahlian Riani, karena ia biasa membuat pengumuman atau jarkoman dengan bahasa yang sederhana namun menarik. Merapikan kuesioner, form yang digunakan serta hal konseptual lainnya adalah milik Aruna, Sang Filsuf titisan Mas Bagus, begitu ledek teman-temannya.
Proses yang dilalui tidaklah mudah dan juga membutuhkan waktu yang cukup lama hingga akhirnya mereka bisa menyelesaikan penelitian pertama. Setelah memastikan seluruh hal telah siap dan tanpa cela, maka Riani, Ara, dan Aruna memasukkan abstrak penelitian mereka ke konferensi pertama, International Congress of Psychology yang akan diadakan di Yokohama, Jepang. Beberapa menit menjelang tenggat waktu, abstrak penelitian mereka berhasil masuk ke database penyelenggara.
Tanpa sempat istirahat lama, Riani, Ara, dan Aruna kembali jatuh bangun untuk menyelesaikan penelitian kedua mereka. Awalnya keraguan sempat menghampiri mereka, mereka ragu apakah mereka mampu membuat sebuah karya unik namun menarik untuk diikutsertakan dalam konferensi di Perancis. Setelah hati dan pikiran bergulat beberapa saat, akhirnya mereka berhasil mengusir keraguan hingga datanglah keberanian. Usaha yang mereka lakukan tidaklah mudah, karena penelitian yang dilakukan cukup sulit, terutama terkait partisipan penelitian.
Setiap hari mereka meminta kesediaan target responden untuk berpartisipasi, mendekati target satu per satu. Mereka menghiasi berbagai media sosial mereka dengan pengumuman dan permintaan partisipasi penelitian, serta membuang jauh-jauh harga diri untuk meminta kesediaan calon responden berpartisipasi dengan cara komen di media sosial yang bersangkutan. Sudah seperti akun online shop saja memang, tapi tak apa, demi masa depan katanya. Setelah beberapa hari aktif menyelesaikan penelitian ini, akhirnya penelitian kedua pun selesai dan berhasil dikirimkan sebelum tenggat waktu.
Setelah sebulan lebih berfokus pada proses melakukan dua penelitian, Riani, Ara, dan Aruna akhirnya dapat menghembuskan nafas lega. Mereka bangga dengan diri mereka sendiri, mereka bangga dengan kerja sama mereka yang begitu solid, mereka bangga satu sama lain. Mereka bangga dapat tetap terus berusaha meskipun mereka punya 1000 alasan untuk menyerah. Persistensi dan kekuatan mereka berakar dari sebuah pemikiran sederhana bahwa lebih baik mencoba sekarang daripada tidak sama sekali.


--to be continued