Saturday, April 11, 2015

Penjelasan Psikologi Islam mengenai Penggemar KWave yang Berlebihan


                     “Cinta Terlarang Penggemar Hallyu Stars
                              PAGII (Psikologi Bicara Generasi Kini untuk Nanti)
                            Divani Aery Lovian, Universitas Indonesia, 2014

I.                   PENDAHULUAN
Popularitas Korea Selatan semakin hari semakin memuncak seiring dengan adanya globalisasi. Cobalah pandang lingkungan sekitar kita, maka kita akan menemukan fakta bahwa kita dikelilingi oleh berbagai produk dari negeri gingseng ini. Ada beragam produk yang berasal dari Korea Selatan baik yang kita sadari ataupun tidak, turut menunjang kehidupan kita sehari-hari. Produk yang berhasil memikat hati masyarakat tidak hanya sekedar alat elektronik ataupun gadget, namun juga produk budaya. Produk budaya Korea Selatan yang berhasil menghipnotis banyak orang adalah film dan drama, serta industri musik mereka yang dikenal dengan K-pop.
Ledakan popularitas produk industri hiburan Korea Selatan ini dikenal dengan sebutan Korean Wave atau Hallyu (Triana, 2013). Fenomena Korean Wave tidak hanya terjadi diberbagai negara Asia saja, namun juga menyebar hingga seluruh penjuru dunia. Demam industri kreatif ini menyihir banyak orang untuk menjadi para penggemar setianya. Setiap penggemar tentunya memiliki level kekaguman yang berbeda-beda, mulai dari sekedar hanya suka, hingga tergila-gila.
Kegilaan penggemar terhadap Hallyu Stars turut berperan menjadi tangga kesuksesan mereka hingga berhasil mencuri perhatian dunia hiburan dunia. Kepopuleran Hallyu Stars semakin meroket karena cepatnya penyebaran informasi dari mulut ke mulut, ditambah lagi dengan adanya kemajuan teknologi dan globalisasi yang seakan-akan menjadi katalisator kesuksesan mereka.
Para penggemar Hallyu Star sebagian besar merupakan remaja perempuan, yang tidak sedikit pula menjadi penggemar fanatik. Penggemar Hallyu Stars seakan-akan memiliki dunia sendiri yang mereka ciptakan berdasarkan khayalan dan fantasi mereka. Aktivitas yang biasanya dilakukan fans adalah dalam hal konsumsi membeli album kpop, menonton konser kpop, mendownload video performance, mv, lagu, variety show, spazzing twitter/ fangirling (update berita kpop), blog walking, membeli merchandise (Tartila, n.d). Mereka tidak segan-segan merogoh kocek sangat dalam hanya demi memuaskan hasrat mereka untuk menjadi lebih dekat dengan idola dan mendapatkan kepuasan dari hal-hal tersebut.
Lalu sebenarnya salahkah jika kita sebagai seorang mukmin mengidolakan seseorang? Bagaimana pula penjelasan mengenai fenomena ini dari perspektif psikologi Islam? Penulis akan mencoba menjelaskan pandangan psikologi Islam terhadap fenomena demam Korea dan fanatisme ini. Menurut penulis, seseorang menjadi penggemar Hallyu Stars yang fanatik tidak hanya karena ada kecintaan yang berlebihan, namun juga karena ada proses belajar yang terjadi dalam dirinya dan adanya motivasi yang memperkuat munculnya perilaku tersebut.

II.                ISI
Mengidolakan orang lain bukanlah sebuah hal yang aneh ataupun tabu dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang tentunya memiliki idolanya masing-masing, meskipun sekedar mengidolakan orangtuanya maupun orang-orang terdekatnya. Kekaguman terhadap orang lain bisa jadi merupakan implementasi dari cinta yang berkembang dalam diri manusia. Ada berbagai cinta yang berkembang dalam diri manusia, salah satunya adalah cinta terhadap sesama manusia (Najati, 2000).
Cinta kepada sesama manusia sangat penting agar manusia dapat hidup dengan penuh keserasian dan keharmonisan. Meskipun Allah memerintahkan individu untuk mengembangkan cinta pada sesama manusia, cinta tersebut tetap harus dalam takaran yang tepat dan tidak berlebihan. Fanatisme yang berlebihan terhadap idola merupakan kecenderungan cinta terhadap sesama manusia yang berlebihan. Oleh karena itu, cinta berlebihan yang terwujud dalam bentuk fanatisme ini bukanlah sesuatu yang disenangi Allah. Seorang mukmin hendaknya menumbuhkan cinta kepada Allah melebihi cintanya segala sesuatunya, termasuk cinta pada diri sendiri maupun sesama manusia (Najati, 2000). Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran : 31

Artinya : “Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikuti-lah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Ali Imran : 31).

Kutipan ayat Al Qur’an tersebut menekankan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa orang yang benar-benar mencintai-Nya melebihi cintanya terhadap apapun. Mencintai manusia lain secara berlebihan saja tidak diperbolehkan, apalagi jika kita mencintai orang kafir secara berlebihan. Ini berkaitan dengan larangan Allah untuk menjadikan orang kafir sebagai penolong ataupun wali, yang juga ditafsirkan sebagai idola oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya (Saad, 2012).

Larangan ini ditunjukkan dalam beberapa ayat Al Qur’an, diantaranya QS. Ali Imran ayat 28 :

Artinya : “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin.” (QS. Ali Imran : 28)


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَتَّخِذُواْ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاء مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُواْ لِلّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَاناً مُّبِيناً

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu).” (QS: An-Nisaa’. 144).

Ayat-ayat diatas menerangkan bahwa Allah melarang seorang mukmin untuk memberikan wa’la (loyalitasnya) pada orang kafir (Razi, 2014). Selain itu, Allah juga berfirman bahwa Allah menggolongkan orang-orang akan menggolongkan yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman penolong tersebut sebagai orang munafik. Orang munafik yang demikian akan mendapat siksaan pedih sebagaimana firman Allah :

Artinya : “Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin” (QS. An Nisaa : 138 )

Berdasarkan ulasan beberapa ayat Al Qur’an tersebut, sesungguhnya seorang mukmin dilarang untuk menjadikan orang kafir menjadi seorang wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Hal ini berkaitan dengan fenomena seorang mukmin yang mengidolakan Hallyu Stars dimana sebagian besar bintang-bintang tersebut adalah orang non-Islam yang berarti mereka tergolong orang kafir.
Uraian diatas merupakan analisa mengenai fanatisme sebagai bentuk cinta terhadap sesama manusia yang berlebihan, serta hukumnya dalam Islam. Kemudian kembali muncul pertanyaan berikutnya, bagaimana awalnya cinta yang berlebihan tersebut muncul? Tentu saja cinta yang berlebihan tersebut tidak muncul begitu saja dari dalam diri manusia. Ada beberapa proses yang terjadi dalam diri individu yang kemudian memunculkan cinta semacam itu.
Tingkah laku individu merupakan hasil dari berbagai proses yang terjadi, salah satunya proses belajar.  Sejak dini, individu banyak belajar tentang berbagai perilaku dan kebiasaan melalui peniruan terhadap kebiasaan dan tingkah laku orang tua dan orang disekitarnya (Najati, 2000). Kekaguman dan fanatisme yang berlebihan bisa saja muncul karena individu belajar dari lingkungan sekitarnya. Ia mungkin saja melihat perilaku penggemar Hallyu Stars lainnya dan kemudian menjadikan orang tersebut sebagai role model atau acuannya untuk berperilaku.
Seorang penggemar Hallyu Stars biasanya tergabung pada komunitas penggemar, dan tiap anggota komunitas akan saling bertukar ide dan melakukan kegiatan sharing lainnya demi mendukung sang idola. Anggota komunitas tersebut tentunya saling berinteraksi dan bertukar pikiran. Kesempatan untuk meniru fanatisme orang lain semakin terbuka lebar karena adanya komunitas-komunitas seperti ini. Oleh karena adanya tabiat manusia untuk cenderung meniru dan belajar banyak perilaku dari meniru orang lain, maka teladan yang baik menjadi sangat penting. Lewat suri tauladan yang baik, manusia belajar kebiasaan yang baik dan akhlak yang mulia. Sebaliknya, lewat suri tauladan yang buruk, manusia juga belajar kebiasaan yang buruk dan akhlak tercela (Najati, 2000).
Seorang penggemar bergabung dalam sebuah komunita penggemar bukannya tanpa motif tersendiri. Kesenangan seorang penggemar bergabung dalam sebuah fans club dipicu oleh adanya kebutuhan individu yakni kebutuhan untuk berafiliasi dengan lingkungannya. Individu memiliki motif untuk merasakan sense of belonging tidak hanya dari keluarganya, namun juga dari lingkungan. Motif ini adalah salah satu motif timbal balik antara seseorang dengan institusi tertentu, hingga membuat seseorang menunjukkan loyalitasnya pada institusi tersebut (Taufiq, 2006).
Sense of belonging yang dibutuhkan oleh individu sebagai seorang penggemar dapat diperolehnya dari komunitas ataupun fans club yang ia ikuti. Penggemar sering mendapatkan kekuatan dan semangat dari kemampuan mereka untuk mengidentifikasikan diri mereka sebagai bagian dari kelompok penggemar lain yang berbagi kesenangan yang sama dan menghadapi permasalahan yang sama (Jenkins,1992, dalam Tartila, 2013). Adanya kesenangan yang timbul karena dapat mengidentifikasikan diri tersebut membuat seseorang menjadi fans loyal terhadap komunitas yang ia ikuti. Seseorang akan menunjukkan loyalitasnya pada suatu institusi tertentu jika mendapat perasaan positif dari institusi tersebut (kasih sayang, perhatian, pengertian, dan sebagainya). Islam memberikan makna loyalitas yang lebih luas dari yang baisanya dipahami manusia selama ini (Taufiq, 2006).
Adanya keinginan untuk berafiliasi dengan komunitas penggemar Hallyu Stars tentunya membuat seseorang terus melakukan berbagai hal dan berperilaku sesuai dengan norma komunitasnya. Dukungan yang diberikan oleh sesama penggemar justru menjadi pembenaran bagi mereka untuk semakin meningkatkan fanatismenya pada idola. Seorang penggemar yang tergabung dalam komunitas penggemar tentunya akan sedikit banyak terpengaruh dengan perilaku penggemar lain, dan mereka saling mendukung satu sama lain. Ini meningkatkan loyalitas mereka terhadap idola, fanatisme mereka pun semakin tak terbendung.
Berdasarkan penjelasan tersebut, loyalitas yang ditunjukkan penggemar Hallyu Stars terhadap idola merupakan bentuk loyalitas yang sangat berlebihan. Ini ditunjukkan dari stigma mengenai penggemar Hallyu Stars yang dianggap selalu bersikap berlebihan, gila, histeris, obsesif, adiktif, dan konsumtif ketika mereka sangat gemar menghambur-hamburkan uang untuk membeli merchandise idola maupun mengejar idola hingga ke belahan dunia manapun (Tartila, 2013). Hal ini tentunya tidak hanya menjadi sekedar stigma saja, tetapi memang sudah terlihat dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya dapat diobservasi secara langsung namun juga fanatisme penggemar Hallyu Stars sudah menggema di berbagai media penyebaran informasi.
Perjalanan sejarah membuktikan bahwa loyalitas kepada akidah dan keyakinan adalah loyalitas terkuat dari semua loyalitas yang diketahui dan dikenal dalam kehidupan manusia. Islam tidak mengakui bentuk loyalitas lain (Taufiq, 2006). Dalam bukunya, Taufiq (2006) menyatakan bahwa Islam mengakui adanya loyalitas kekeluargaan yang ditunjukkan dengan menyambung tali silaturrahmi, loyalitas pada negara yang ditunjukkan dengan sikap nasionalis, ataupun loyalitas pada sesama manusia yang ditunjukkan dengan persaudaraan sesama manusia.
Fanatisme dan loyalitas penggemar yang berlebihan ini merupakan bentuk loyalitas yang tidak sebaiknya dilakukan oleh seorang mukmin. Memang ada berbagai motivasi yang mendasari perilaku individu termasuk fanatisme, namun demikian seorang mukmin seharusnya berusaha untuk mengendalikan berbagai motif yang ada dalam dirinya. Motivasi dalam diri manusia harus dikendalikan “apakah kita mampu mengendalikan motivasi ataukan motivasi yang mengendalikan hidup kita, sehingga pemenuhannya pun melalui jalan yang salah dengan berbagai penyimpangannya” (Taufiq, 2006). Pengendalian diri ini sangatlah penting agar dorongan-dorongan dan kebutuhan yang ada dalam diri individu tetap dapat dipenuhi namun tidak menjerumuskan individu dalam lubang dosa.

III. PENUTUP
Berdasarkan ulasan diatas, penulis menarik beberapa kesimpulan yang saling berkaitan satu sama lain. Fanatisme merupakan bentuk cinta yang dimiliki seorang mukmin pada manusia lain, namun cinta tersebut melebihi takaran yang seharusnya, dimana fanatisme ini muncul akibat adanya beberapa faktor dan motif yang dimiliki individu. Cinta tersebut semakin berkembang menjadi fanatisme karena adanya dukungan yang dirasakan oleh seorang penggemar dari komunitas penggemar yang mengayomi mereka.
Anggota komunitas yang saling mendukung dan sharing satu sama lain meningkatkan loyalitas seorang penggemar baik pada komunitasnya maupun pada idolanya. Hal ini dikarenakan adanya norma tidak tertulis dalam komunitas tersebut untuk mendukung idola mereka mencapai kesuksesan yang lebih gemilang. Selain itu, fanatisme juga berkembang karena adanya proses belajar melalui peniruan. Seorang penggemar akan meniru perilaku anggota lain di komunitas tersebut agar dapat berperilaku sesuai dengan komunitasnya.
Banyak penggemar yang kadang menyadari bahwa perilaku mereka berlebihan, namun tetap saja mereka bergabung dalam komunitas yang justru semakin meningkatkan intensitas fanatisme mereka. Seorang mukmin menjadi sangat lekat dengan komunitas yang ia ikuti karena adanya kebutuhan individu akan sense of belonging. Kebutuhan ini menjadi salah satu motif dasar seorang mukmin untuk tetap loyal terhadap komunitas maupun idolanya karena adanya perasaan puas dan senang karena dapat mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari komunitas tersebut.
Seluruh faktor yang meningkatkan fanatisme seorang mukmin ini harus dikendalikan sebaik mungkin agar tidak membuat individu melakukan berbagai penyimpangan. Pengendalian diri menjadi hal yang sangat krusial karena kecintaan yang berlebihan terhadap apapun selain Allah merupakan perilaku yang tidak disenangi Allah. Bentuk cinta yang harus dikembangkan dalam diri seorang mukmin adalah cinta terhadap Allah SWT, karena cinta terhadap Allah merupakan bentuk cinta sejati orang yang beriman.
Seorang mukmin tidak sepantasnya mencintai manusia lain secara berlebihan, apalagi menjadikan orang kafir sebagai wali ataupun patokan berperilaku. Allah telah berfirman agar orang beriman tidak menjadikan orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Oleh karena itu, tidak sepantasnya seorang mukmin menjadikan idola mereka, terutama Hallyu Stars sebagai acuan mereka berperilaku, dan melimpahkan cinta yang berlebihan pada mereka. Sebagai seorang mukmin, penggemar yang berlebihan tersebut hendaknya bangun dari dunia impian yang mereka konstruk sendiri dan kembali pada realita bahwa hanyalah Allah yang Maha Segalanya, dan tidak ada apapun di muka bumi ini yang dapat menandingi-Nya.


DAFTAR PUSTAKA

Razi, M. (2014). Hukum bersekutu dengan orang kafir dan munafik. Retrieved 20th November 2014 from http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/tafsir-surat-an-nisa-138-140.htm#.VG39vTSUeSo.
Saad, M. (2012). Virus Kpop dan dekonstruksi aqidah. Retrieved 13th November 2014 from http://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2012/04/05/2325/virus-k-pop-dan-dekonstruksi-aqidah.html
Tartila, P.L. (2013).  Fanatisme fans Kpop dalam blog netizenbuzz. Retrieved 20th November 2014 from http://journal.unair.ac.id/filerPDF/comm0920a22386full.pdf
Taufiq, M, I. (2006). Panduan Lengkap dan Praktis Psikologi Islami. Jakarta: Gema Insani.
Triana, N. (2013). Terlena pusaran Korean Wave. Retrieved 20th November 2014 from http://travel.kompas.com/read/2013/10/27/1438203/Terlena.Pusaran.Korean.Wave.




No comments:

Post a Comment