Berikut ini merupakan esai yang saya buat untuk pemenuhan tugas UTS mata kuliah Psikologi Perkotaan pada semester 4 lalu. Saat itu saya mendapat topik esai tentang city atmosphere, dan seluruh mahasiswa diwajibkan menulis esai yang menggambarkan kota Jakarta.
Motor Melewati Trotoar? Itu Pemandangan Biasa
Nama : Divani Aery Lovian
NPM : 1206213214
Topik : City Atmosphere – Pengukuran dan Perbandingan Perilaku
Fenomena : Pengendara motor melintasi trotoar di jalan kawasan
perkantoran Jakarta
Jumlah Kata : 815 kata (hanya isi essay saja)
Keywords: kemacetan, traffic violations, pace
Jakarta
merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibukota Negara
Republik Indonesia. Jumlah penduduk kota Jakarta pada tahun 2011 mencapai
9.809.857 jiwa, dengan tingkat kepadatan per km2 sebesar 14.694.55
dan populasi yang heterogen. Hal ini menunjukkan bahwa kota Jakarta tergolong
sebuah kota yang besar karena memenuhi tiga karakteristik kota seperti yang
disampaikan Milgram. Dalam jurnalnya, Milgram (1970) mengatakan bahwa sebuah
kota besar memiliki jumlah populasi yang tinggi, tingkat kepadatan yang cukup
tinggi, dan adanya heterogenitas pada populasi. Jakarta sebagai sebuah kota besar tentunya memiliki atmosfer khas yang
menggambarkan Jakarta. Atmosfer kota Jakarta yang sangat melekat adalah
kemacetan dan tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas. Ada berbagai macam
pelanggaran lalu lintas di Jakarta, salah satu pelanggaran yang kini marak
terjadi adalah motor melintasi trotoar untuk pejalan kaki.
Tingginya jumlah penduduk di Jakarta berbanding lurus
dengan penggunaan kendaraan bermotor di Jakarta. Berdasarkan data
tahun 2012,
jumlah mobil
yang ada di Jakarta adalah 2.541.351 unit, dan sepeda motor berjumlah 9.861.451 unit (Sari, 2012). Data jumlah mobil dan motor
pribadi tersebut merupakan data dua tahun lalu, maka terbayanglah oleh kita
betapa banyaknya kendaraan bermotor di Jakarta saat ini mengingat adanya
peningkatan yang terjadi dalam waktu dua tahun.
Kepadatan penduduk dan tingginya angka penggunaan
kendaraan bermotor ini menimbulkan banyak dampak negatif bagi kondisi
transportasi Jakarta. Salah satu masalah transportasi yang belum teratasi
hingga saat ini, bahkan semakin parah adalah kemacetan di jalanan Ibukota.
Kemacetan di Jakarta inilah yang kemudian menjadi akar dari berbagai
permasalahan lain, termasuk memicu terjadinya pelanggaran lalu lintas.
Pelanggaran lalu lintas tentunya tidak hanya dilakukan
oleh pengendara mobil, namun juga
pengguna sepeda motor. Pelanggaran lalu lintas yang saat ini mulai menjadi
sorotan adalah pengguna sepeda motor melintasi trotoar untuk pejalan kaki.
Pelanggaran ini banyak dilakukan terutama pada saat jam sibuk, dan saat
kemacetan terjadi. Pengemudi motor melintasi trotoar ini disebabkan oleh
berbagai faktor, termasuk ketidaksabaran pengemudi saat macet karena tuntutan
mobilitas yang serba cepat di perkotaan.
Alfred yang merupakan perwakilan Koalisi Pejalan Kaki
mengatakan bahwa jalur trotoar yang biasa dilalui pengemudi sepeda motor adalah
di lintasan Jl. MH. Thamrin adalah waktu pekerja pulang, yakni sekitar pukul
17.00 hingga malam hari (Faris, 2012). Dari pantauan Republika, puluhan motor
mencoba menaiki trotoar ketika terjadi kemacetan di kawasan Senayan karena
(Syahputra, 2013)
Faris (2012) mengatakan bahwa kepadatan kendaraan
bermotor membuat pengendara tak lagi kenal jalurnya, yang penting tiba ditujuan
dengan lancar, tanpa memperdulikan hak orang di sekitar. Hal ini membuat
Koalisi Pejalan Kaki yang diwakili oleh Alfred mengadakan aksi untuk membeikan
peringatan pada pengguna kendaraan sepeda motor yang mengambil jalur pedestrian
untuk pejalan kaki (Faris, 2012). Pengguna sepeda motor tetap menaiki trotoar
sebagai alternatif jalan, terutama saat polisi jarang beroperasi untuk mengatur
kemacetan di daerah tersebut (Syahputra, 2013).
Berdasarkan gambaran fenomena di atas, motor melintasi
trotoar karena ingin menghindari kemacetan. Hal ini sesuai dengan pendapat para
peneliti bahwa pelanggaran lalu lintas dipengaruhi oleh
faktor internal dan eksternal, seperti pengetahuan terhadap batas kecepatan berkendara, tekanan dari kemacetan di jalan, dan
kapabilitas performa saat mengemudi (Parker,
Manstead, Stradling, & Reason, 1992). Pengemudi mengendarai motor melewati trotoar
merupakan produk dari proses kognitifnya, dan proses kognitif tersebut
dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi di jalanan (Taga, Furuta, Kanno, 2012).
Kemacetan yang terjadi di
Jakarta tentunya membuat para pengemudi kendaraan terhambat untuk sampai ke
tujuan. Naatanen dan Summala (1976) menyatakan bahwa perilaku mengemudi yang
agresif, termasuk melanggar lalu lintas merupakan hasil dari perasaan frustasi
terhadap suatu gangguan seperti kemacetan. Faktor lain yang semakin mendorong
seorang pengemudi sepeda motor melintasi trotoar, padahal ia tahu hal tersebut
dilarang dan berbahaya adalah faktor kepribadian. Seseorang dengan tipe
kepribadian A yang memiliki tingkat ketidaksabaran tinggi memiliki keinginan
untuk berpindah dari lokasi A ke lokasi B dengan cepat dan ini yang mendorong
mereka untuk memilih jalan pintas untuk menghindari kemacetan (West, Elander,
French, 1993 dalam Najeeb, 2007).
Kemacetan di Jakarta
menghambat masyarakat untuk mobilisasi dari suatu tempat ke tempat lain. Hal
ini tentunya mendorong masyarakat untuk menghalalkan segala cara agar tetap
dapat sampai ke tujuan dengan cepat, termasuk melanggar peraturan lalu lintas.
Keinginan untuk segera sampai ini juga dipengaruhi oleh mobilitas di perkotaan
yang serba cepat. Ini merupakan salah satu komponen dari atmosfer kota yang
disebut pace of life. Pace of life adalah rate (Lauer, 1981, dalam Levine &
Norenzayan, 1999), kecepatan (Amato, 1983, dalam Levine & Norenzayan, 1999),
dan kecepatan relative atau kepadatan pengalaman, makna, persepsi dan aktivitas
(Werner, Altman, & Oxley, 1985, dalam Levine & Norenzayan, 1999).
Berdasarkan pembahasan di
atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dua hal yang saat ini menjadi
permasalahan utama kota Jakarta adalah kemacetan dan pelanggaran lalu lintas.
Pelanggaran lalu lintas yang kini marak terjadi adalah melintasnya pengendara
motor di trotoar tempat pejalan kaki. Pengendara motor melintasi trotoar
biasanya terjadi di sekitar kawasan perkantoran di Jakarta, terutama saat
jam-jam sibuk. Permasalahan ini sudah berlangsung cukup lama dan masih belum
teratasi hingga sekarang. Melintasnya pengendara sepeda motor di trotoar kini
menjadi pemandangan biasa di Jakarta, yang kemudian menjadi atmosfer kota
Jakarta.
Daftar Pustaka
Anonim. (31 Mei 2012). Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rumah
tangga Provinsi DKI Jakarta sampai level Kelurahan. Diperoleh dari
jakarta.bps.go.id
Faris,,
F. (4 Februari 2012). Stop! Pengendara Motor Dilarang Lewat Trotoar. Diperoleh
dari metropolitan.inilah.com
Forward,
S.E. (2009). The theory of planned behavior : the role of descriptive norms and
past behavior in the prediction of drivers intentions to violate. Transportation Research Part F: Psychology
and Behavior, 12, I98-207.
Levine, R.V., & Norenzayan, A. (1999). The pace
of life in 31 countries. Journal of
Cross-Cultural Psychology, 30, 178-205.
Naatanen, R., & Summala, H. (1976). Road user
behavior and traffic accidents. Amsterdam : North Holland Publishing Company.
Najeeb, M.P.M. (2007). A study of the psychological
factors that influence the rule violation behavior of drivers. Diperoleh dari
www.ictct.org
Parker, D., Manstead, A.S.R., Stradling,
S.G., & Reason, J.T. (1992). Intention to commit driving violations : an
application of the theory of planned behavior. Journal of Applied Psychology, 77(1), 94-101.
Sari, H.R. (30 April 2012).
Selama 2012, 13 juta kendaraan sesaki Jakarta. Diperoleh dari www.merdeka.com
Taga, H., Furuta, K., & Kanno, T.
(2012). Human reliability of car drivers in urban intersections. Journal
of Cognition, Technology
& Work, 14, 365-377.
No comments:
Post a Comment