Saturday, April 11, 2015

Esai tentang Traffic Violations di Jakarta

Berikut ini merupakan esai yang saya buat untuk pemenuhan tugas UTS mata kuliah Psikologi Perkotaan pada semester 4 lalu. Saat itu saya mendapat topik esai tentang city atmosphere, dan seluruh mahasiswa diwajibkan menulis esai yang menggambarkan kota Jakarta.

Motor Melewati Trotoar? Itu Pemandangan Biasa

Nama   : Divani Aery Lovian
NPM   : 1206213214
Topik   : City Atmosphere – Pengukuran dan Perbandingan Perilaku
Fenomena : Pengendara motor melintasi trotoar di jalan kawasan perkantoran Jakarta
Jumlah Kata : 815 kata (hanya isi essay saja)
Keywords: kemacetan, traffic violations, pace

Jakarta merupakan salah satu kota besar di Indonesia yang juga merupakan ibukota Negara Republik Indonesia. Jumlah penduduk kota Jakarta pada tahun 2011 mencapai 9.809.857 jiwa, dengan tingkat kepadatan per km2 sebesar 14.694.55 dan populasi yang heterogen. Hal ini menunjukkan bahwa kota Jakarta tergolong sebuah kota yang besar karena memenuhi tiga karakteristik kota seperti yang disampaikan Milgram. Dalam jurnalnya, Milgram (1970) mengatakan bahwa sebuah kota besar memiliki jumlah populasi yang tinggi, tingkat kepadatan yang cukup tinggi, dan adanya heterogenitas pada populasi. Jakarta sebagai sebuah kota besar tentunya memiliki atmosfer khas yang menggambarkan Jakarta. Atmosfer kota Jakarta yang sangat melekat adalah kemacetan dan tingginya tingkat pelanggaran lalu lintas. Ada berbagai macam pelanggaran lalu lintas di Jakarta, salah satu pelanggaran yang kini marak terjadi adalah motor melintasi trotoar untuk pejalan kaki.
Tingginya jumlah penduduk di Jakarta berbanding lurus dengan penggunaan kendaraan bermotor di Jakarta. Berdasarkan data tahun 2012, jumlah mobil yang ada di Jakarta adalah 2.541.351 unit, dan sepeda motor berjumlah 9.861.451 unit (Sari, 2012). Data jumlah mobil dan motor pribadi tersebut merupakan data dua tahun lalu, maka terbayanglah oleh kita betapa banyaknya kendaraan bermotor di Jakarta saat ini mengingat adanya peningkatan yang terjadi dalam waktu dua tahun.
Kepadatan penduduk dan tingginya angka penggunaan kendaraan bermotor ini menimbulkan banyak dampak negatif bagi kondisi transportasi Jakarta. Salah satu masalah transportasi yang belum teratasi hingga saat ini, bahkan semakin parah adalah kemacetan di jalanan Ibukota. Kemacetan di Jakarta inilah yang kemudian menjadi akar dari berbagai permasalahan lain, termasuk memicu terjadinya pelanggaran lalu lintas.
Pelanggaran lalu lintas tentunya tidak hanya dilakukan oleh pengendara mobil, namun  juga pengguna sepeda motor. Pelanggaran lalu lintas yang saat ini mulai menjadi sorotan adalah pengguna sepeda motor melintasi trotoar untuk pejalan kaki. Pelanggaran ini banyak dilakukan terutama pada saat jam sibuk, dan saat kemacetan terjadi. Pengemudi motor melintasi trotoar ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk ketidaksabaran pengemudi saat macet karena tuntutan mobilitas yang serba cepat di perkotaan.
Alfred yang merupakan perwakilan Koalisi Pejalan Kaki mengatakan bahwa jalur trotoar yang biasa dilalui pengemudi sepeda motor adalah di lintasan Jl. MH. Thamrin adalah waktu pekerja pulang, yakni sekitar pukul 17.00 hingga malam hari (Faris, 2012). Dari pantauan Republika, puluhan motor mencoba menaiki trotoar ketika terjadi kemacetan di kawasan Senayan karena (Syahputra, 2013)
Faris (2012) mengatakan bahwa kepadatan kendaraan bermotor membuat pengendara tak lagi kenal jalurnya, yang penting tiba ditujuan dengan lancar, tanpa memperdulikan hak orang di sekitar. Hal ini membuat Koalisi Pejalan Kaki yang diwakili oleh Alfred mengadakan aksi untuk membeikan peringatan pada pengguna kendaraan sepeda motor yang mengambil jalur pedestrian untuk pejalan kaki (Faris, 2012). Pengguna sepeda motor tetap menaiki trotoar sebagai alternatif jalan, terutama saat polisi jarang beroperasi untuk mengatur kemacetan di daerah tersebut (Syahputra, 2013).
Berdasarkan gambaran fenomena di atas, motor melintasi trotoar karena ingin menghindari kemacetan. Hal ini sesuai dengan pendapat para peneliti bahwa pelanggaran lalu lintas dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal, seperti pengetahuan terhadap batas kecepatan berkendara, tekanan dari kemacetan di jalan, dan kapabilitas performa saat mengemudi (Parker, Manstead, Stradling, & Reason, 1992). Pengemudi mengendarai motor melewati trotoar merupakan produk dari proses kognitifnya, dan proses kognitif tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah kondisi di jalanan (Taga, Furuta, Kanno, 2012).
Kemacetan yang terjadi di Jakarta tentunya membuat para pengemudi kendaraan terhambat untuk sampai ke tujuan. Naatanen dan Summala (1976) menyatakan bahwa perilaku mengemudi yang agresif, termasuk melanggar lalu lintas merupakan hasil dari perasaan frustasi terhadap suatu gangguan seperti kemacetan. Faktor lain yang semakin mendorong seorang pengemudi sepeda motor melintasi trotoar, padahal ia tahu hal tersebut dilarang dan berbahaya adalah faktor kepribadian. Seseorang dengan tipe kepribadian A yang memiliki tingkat ketidaksabaran tinggi memiliki keinginan untuk berpindah dari lokasi A ke lokasi B dengan cepat dan ini yang mendorong mereka untuk memilih jalan pintas untuk menghindari kemacetan (West, Elander, French, 1993 dalam Najeeb, 2007).
Kemacetan di Jakarta menghambat masyarakat untuk mobilisasi dari suatu tempat ke tempat lain. Hal ini tentunya mendorong masyarakat untuk menghalalkan segala cara agar tetap dapat sampai ke tujuan dengan cepat, termasuk melanggar peraturan lalu lintas. Keinginan untuk segera sampai ini juga dipengaruhi oleh mobilitas di perkotaan yang serba cepat. Ini merupakan salah satu komponen dari atmosfer kota yang disebut pace of life.             Pace of life adalah rate (Lauer, 1981, dalam Levine & Norenzayan, 1999), kecepatan (Amato, 1983, dalam Levine & Norenzayan, 1999), dan kecepatan relative atau kepadatan pengalaman, makna, persepsi dan aktivitas (Werner, Altman, & Oxley, 1985, dalam Levine & Norenzayan, 1999).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa dua hal yang saat ini menjadi permasalahan utama kota Jakarta adalah kemacetan dan pelanggaran lalu lintas. Pelanggaran lalu lintas yang kini marak terjadi adalah melintasnya pengendara motor di trotoar tempat pejalan kaki. Pengendara motor melintasi trotoar biasanya terjadi di sekitar kawasan perkantoran di Jakarta, terutama saat jam-jam sibuk. Permasalahan ini sudah berlangsung cukup lama dan masih belum teratasi hingga sekarang. Melintasnya pengendara sepeda motor di trotoar kini menjadi pemandangan biasa di Jakarta, yang kemudian menjadi atmosfer kota Jakarta.



Daftar Pustaka

Anonim. (31 Mei 2012). Jumlah penduduk menurut jenis kelamin dan rumah tangga Provinsi DKI Jakarta sampai level Kelurahan. Diperoleh dari jakarta.bps.go.id
Faris,, F. (4 Februari 2012). Stop! Pengendara Motor Dilarang Lewat Trotoar. Diperoleh dari metropolitan.inilah.com
Forward, S.E. (2009). The theory of planned behavior : the role of descriptive norms and past behavior in the prediction of drivers intentions to violate. Transportation Research Part F: Psychology and Behavior, 12, I98-207.
Levine, R.V., & Norenzayan, A. (1999). The pace of life in 31 countries. Journal of Cross-Cultural Psychology, 30, 178-205.
Naatanen, R., & Summala, H. (1976). Road user behavior and traffic accidents. Amsterdam : North Holland Publishing Company.
Najeeb, M.P.M. (2007). A study of the psychological factors that influence the rule violation behavior of drivers. Diperoleh dari www.ictct.org
Parker, D., Manstead, A.S.R., Stradling, S.G., & Reason, J.T. (1992). Intention to commit driving violations : an application of the theory of planned behavior. Journal of Applied Psychology, 77(1), 94-101.
Sari, H.R. (30 April 2012). Selama 2012, 13 juta kendaraan sesaki Jakarta. Diperoleh dari www.merdeka.com

Taga, H., Furuta, K., & Kanno, T. (2012). Human reliability of car drivers in urban intersections. Journal of Cognition, Technology & Work, 14, 365-377.

No comments:

Post a Comment