So,
this is my first post since I make this account…
Semua bermula
dari 2 minggu belakangan, dimana saya sedang berada dalam kondisi tertekan yang
memuncak. Tekanan yang dirasakan tentunya ya terkait hal-hal akademis, ya masalah
klasik para mahasiswa. Sejak awal semester 5 ini, saya sudah memiliki feeling bahwa semester ini tekanannya
akan lebih besar daripada semester lalu, meskipun jadwal kuliah terlihat
sedikit senggang.
Benar saja,
ketika awal semester stress yang dirasakan belum seberapa, namun progresif
hingga mencapai puncaknya dalam dua minggu belakangan. Tidak heran, di
fakultasku selalu begitu. Diawal semester flow
nya masih biasa saja, namun semakin menekan menjelang ujian. Hampir setiap
mata kuliah ada tugas, baik individual maupun tugas kelompok. Selain itu, deadline nya pun berdekatan, jadi ya setiap
hari merupakan deadline pengumpulan
tugas.
Tekanan tentu
tidak hanya dari tugas akademis saja, namun juga ada amanah kegiatan
non-akademis yang harus diemban dan dijalankan sebaik mungkin. Ya…namanya juga
mahasiswa. Tidak lepas dari kegiatan organisasi kemahasiswaan ataupun
kepanitiaan. Semester ini saya mengikuti kedua kepanitiaan yang tergolong long-term, dimana persiapan sudah
dilakukan berbulan-bulan sebelumnya, dan menuntut perhatian lebih menjelang
hari-H acara.
Entah kenapa
kesibukan kepanitiaan ini justru bertepatan dengan kesibukan akademis yang
saling berebut mencuri atensi saya. Tugas kuliah + kepanitiaan + materi kuliah
yang cukup “berat” semester ini berhasil menjebak saya dalam kondisi stressful. Benar-benar stress dan
se-tertekan itu. Jika sedang sendiri, ada saja pikiran-pikiran aneh yang muncul
dalam benak saya, dan cenderung membuat semakin down..
Terlalu banyak
pikiran, ingin mengeluh ke teman tapi mereka juga merasakan hal yang sama.
Ingin mengeluh ke orangtua tapi saya tidak ingin membuat mereka khawatir,
apalagi hanya karena hal semacam ini yang sebenarnya masih bisa saya atasi
sendiri. Saya sempat membuat status yang sebenarnya biasa saja, namun kemudian
kedua orangtua saya langsung menghubungi saya. Mereka seakan-akan punya radar
bahwa anaknya ini memang sedang kesulitan dan butuh kekuatan lebih.
Awalnya ayah
saya mengirim chat yang isinya
sederhana, hanya “semangat…semangat..tarik nafas dalam-dalam, lepaskan
pelan-pelan dalam 16 hitungan… lakukan 7x”. Beliau tiba-tiba chat begitu padahal anaknya tidak ada
memberitahukan apapun, bahkan tidak chat apapun
sebelumnya. Saat itu memang saya sedang dalam kondisi yang bisa dibilang cukup
rentan. Namanya juga anak rantau, jauh dari rumah, jauh dari orangtua, dan
berjuang sendiri disini, tentu saja tersentuh hanya dengan chat begini saja. Tanpa disadari air mata ini jatuh begitu saja,
kemudian tangis pun tidak tertahan lagi..
Mungkin karena
memang sedang dalam kondisi tertekan, jadi yang beginian saja sudah membuat
mewek. Esoknya justru ibu saya yang menelepon, dan bertanya “Diva kenapa?”. Aku
bingung, memang aku kenapa? Ia kemudian bertanya lagi “Sehat? Ngga ada apa-apa
kan?”. Lagi-lagi hal sederhana ini membuat saya heran sekaligus sedih (lagi).
Saya tidak tahu apakah ini karena kontak orangtua-anak yang menyebabkan mereka
tahu bahwa saya sedang ada masalah, atau karena hal lain.
Sebagai
mahasiswa rantau, homesick seperti
ini sebenarnya sering terjadi, namun saat ini saya sudah terbiasa jauh dari
mereka (mungkin karena sudah 5 semester). Meskipun sudah biasa, dalam
kondisi-kondisi tertentu, memang sedikit perhatian dari mereka saja bisa
membuat tersentuh, apalagi ketika saya sedang dalam kondisi tidak fit dan
stress.
Dinamika
semester ini ya seperti itu, tugas berlimpah dan pressure semakin kuat. Saya hanya bisa mencoba mencurahkan apa yang
ada di pikiran dan apa yang saya rasakan pada beberapa teman saya. Orangtua
saya mungkin hanya biasa berpikir bahwa saya sangat sibuk saat ini karena
setiap ditelepon ataupun dihubungi, saya selalu berada di kampus atau sedang
mengerjakan sesuatu, Alhamdulillah mereka mengerti..
Hingga
beberapa hari lalu, tiba-tiba saya terpikir untuk membuat blog, hanya dengan alasan bahwa saya ingin mencoba menulis lagi. Sebenarnya
sejak dulu saya senang menulis, namun kegemaran itu kemudian ditenggelamkan
oleh berbagai kesibukan lain yang menyita banyak waktu saya. Saya mendapat
masukan dari beberapa orang, termasuk dari teman dan dosen saya bahwa saya
harus menuangkan apapun yang ada dalam diri saya agar hal itu tidak melukai
saya karena dipendam terus. Saya tidak senang menulis diari karena saya mudah
merasa bosan dan lelah jika menulis hal yang panjang. Oleh karena itu,
terpikirlah untuk membuat blog dengan
tujuan agar blog ini dapat menjadi
wadah yang menampung segala keluh kesah dan suka duka yang saya alami.
Sesuai dengan
alamatnya, blog ini akan menjadi
gudang dari setumpuk cerita dalam hidup saya, dan cerita tersebut tertuang
dalam bentuk rangkaian kata..
So, that’s my 1st post
and the reason why I choose to write in this blog.
I’ll use this blog to write
everything that I want to, not for entertain others :)
Terserah pada anda ingin
menganggap segala postingan disini (termasuk curcol-an diatas) sebagai apa,
karena ini merupakan bentuk self-help saya.
Last but not the least, never judge others, because everybody has a same rights and everybody deserve to be happy :)
No comments:
Post a Comment